Mar 2, 2009

Pembantaian Bedawang Nala

Penyu hijau dikeramatkan oleh masyarakat Bali, tapi sekaligus diburu. Ini akibat dari adat yang salah kaprah. Perdagangan penyu lalu diperketat, tapi penegakan hukumnya diabaikan.

NASIB dua saudara ini berbeda, bagaikan langit dan bumi. Kura-kura Ninja adalah tokoh kartun kondang di layar kaca yang jadi pahlawan si Upik. Adapun di pantai Bali, riwayat penyu hijau (Chelonia mydas) harus berakhir di tusuk sate. Hewan amfibi ini merupakan komoditi yang laris diperdagangkan di Pulau Dewata, sejak dua dasawarsa lalu, meski selama itu pula para pemerhati lingkungan dengan lantang mengingatkan masyarakat tentang populasi penyu yang kian lama kian anjlok.

 Tempo, 16 Maret 1999

Kekhawatiran mereka mudah dipahami karena dari enam jenis penyu yang ada di Nusantara, hanya penyu hijau yang belum dilindungi. Untunglah, setelah dinanti sekian lama, akhir Januari lalu keluar Peraturan Pemerintah No. 7 dan 8 Tahun 1999, yang menegaskan bahwa penyu yang boleh diperdagangkan adalah penyu hasil penangkaran. Itu pun sebatas kategori F2 (keturunan setingkat cucu). Di luar itu, diharamkan.

 

Namun peraturan baru itu belum efektif menahan laju kematian penyu hijau di Bali. Penegakan hukum di Indonesia, terutama untuk pelestarian lingkungan, jarang dilakukan sebagaimana mestinya. Pihak penegak hukum tidak bekerja serius dan dana pun tidak tersedia?itulah dua dari beberapa faktor penyebab.

 

Di sisi lain, perburuan penyu hijau memang gila-gilaan. Tengok saja laporan World Wide Fund for Nature (WWF). Pada suatu hari bulan November tahun lalu, tim pemantauWWF memergoki tiga kapal pemburu penyu di sepanjang perairan Dobo, Maluku. Target tangkapan tiap kapal sampai 300 ekor per hari. Hewan-hewan ini kemudian dilempar ke Tanjungbenua, Bali, yang telah lama merupakan pintu masuk perdagangan penyu dari perairan Maluku, Flores, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

 

Rupanya, peminat penyu di Bali cukup banyak. Sebab, menurut penggemarnya, daging penyu jauh lebih manis dan empuk daripada daging sapi. Tak aneh bila harga seekor penyu paling rendah Rp 500 ribu.

 

Pembantaian penyu yang tak terkendali membuat WWF dan Green Peace bereaksi keras. Pada 1990, ada ancaman boikot dari para wisatawan asing. Ancaman ini tak ubahnya pukulan untuk Bali, yang perekonomiannya banyak mengandalkan pariwisata. Gubernur Bali waktu itu, Ida Bagus Oka, tak bisa lain kecuali menandatangani keputusan untuk membatasi perdagangan penyu hingga 5.000 ekor per tahun. Tapi, karena penegakan hukum lemah, pembantaian jalan terus. Dari pemantauan WWF diketahui bahwa jumlah penyu yang dijual tetap melampaui kuota (lihat infografik).

 

Memang benar, jumlah penyu yang diperdagangkan merosot terus dari tahun ke tahun. Namun hal itu bukan pertanda bahwa kesadaran untuk tak lagi menyembelih hewan bermata bening itu telah meningkat. Faktor utamanya, menurut "ahli penyu" di WWF Bali, Veda Santiaji, adalah karena habitatnya makin tergerus. Rupanya, sejak tahun 1980-an, jumlah hewan bercangkang ini makin susut karena pantai pendaratannya?di Sanur, Kuta, dan Nusa Dua?telah bersalin rupa menjadi hotel dan restoran. Hal ini cukup "menakutkan" bagi penyu, yang amat pemalu dan hanya mau bertelur di pantai yang sunyi.

 

Selain habitatnya dirusak, penggusuran penyu juga terjadi di Pulau Serangan, sebuah kawasan di selatan Denpasar yang pernah kondang sebagai "pulau penyu". Lokasi ini kemudian dicaplok oleh pengembang pariwisata, Bali Turtle Island Development Project, yang 11 persen sahamnya dikuasai Tommy dan Sigit Soeharto. Tanpa pikir panjang, surga tempat penyu hijau beranak- pinak ini digasak. Pantainya direklamasi hingga tiga kali luas pulau aslinya. Melihat ini, keluarga penyu pun merasa terancam dan tidak kerasan.

 

Kegemaran masyarakat Bali akan daging penyu merupakan faktor lainnya yang mengancam kelestarian hewan tersebut. Dalam pandangan rakyat Bali, penyu adalah binatang yang diagungkan, diberi gelar Bedawang Nala, dan diyakini sebagai penjaga keseimbangan jagat. Setiap Padmasana, bangunan suci Hindu, selalu disangga dengan relik Bedawang Nala.

 

Namun kebiasaan memakan daging penyu ini ditentang oleh seorang pendeta Hindu terkemuka, Ida Pedanda Gde Ngurah Kaleran. Menurut pendapatnya, adalah salah kalau orang berpikir bahwa bila memakan daging binatang suci, otomatis sang penyantap terbebas dari dosa. Justru karena kesuciannya itulah, menurut Kaleran, penyu hijau harus dilindungi dan tak boleh dibunuh, kecuali untuk keperluan ritual. Dia memperhitungkan, tak diperlukan banyak penyu untuk acara-acara ritual itu. Untuk seluruh upacara di Bali selama setahun, 300 ekor penyu sudah lebih dari cukup. Dan jika keadaan tidak memungkinkan, seperti yang banyak terjadi belakangan ini, penyu bisa diganti dengan jaja cacalan (penganan ketan berupa replika penyu).

 

Apa oleh buat, salah kaprah itu telanjur meluas. Banyak penduduk desa menyembelih penyu hijau untuk pesta adat. Salah kaprah ini perlu diluruskan agar aturan baru tentang perdagangan penyu hijau bisa efektif dalam upaya melindungi hewan langka itu. >Karaniya Dharmasaputra, Agus S. Riyanto (Jakarta), I Nyoman Sugiharta (Bali)

Mar 1, 2009

Strategi Inovasi Biaya Industrialis China

Oleh Bob Widyahartono *)

Jakarta (ANTARA News) - Mulai Mei 2009 selama tiga bulanan akan diselenggarakan China Expo di Shanghai. Expo tersebut tentunya menarik perhatian para pembuat kebijakan, eksekutif bisnis dan perbankan, serta pengamat Indonesia untuk membentuk kerjasama tim (team work) merencanakan secara matang berpartisipasi sesuai kapasitas masing masing.

China Expo tentunya sudah disiapkan jauh-jauh hari, namun para pembuat kebijakan ekonomi China jelas tidak mau tinggal diam atau pasrah dalam menerima dampak krisis ekonomi global.

Fokus mengatasi dampak yang menurunkan ekspor mereka itu adalah pada sektor riil, industri dan perdagangan dalam negeri maupun internasional. Jika dicermati, China menyiapkan serangkaian langah realisasi kebijakan perekonomiannya sejak 1978. Bahkan, pada 1992 dengan perjalanan spektakuler ke selatan (southern tour), Deng Xiaoping negarawan yang meniupkan gaige kaifang alias keterbukaan dan reformasi ekonomi.
Hal itu pada giliranya menggairahkan jiwa kewirausahaan (entreprneurship) masyarakatnya, terutama di kawasan pantai. Selain itu, kebijakannya meningkatkan investasi dalam industri berbentuk usaha patungan dengan China (joint venture) dari negara tetangga, antara lain Jepang, Korea Selatan, Asia Tenggara, Amerika dan Eropa.

Hal menggairahkan bagi bangsa China adalah kesadaran Zhi Fushi Guangrong alias "menjadi kaya itu mulia" dengan memupuk jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) tersebut dalam kemampuan berbisnis secara profesional dan kredibel. Mayoritas industri sebagai eksportir China itu skalanya menengah dan dengan jaringan kerja (networking) ke skala rumah tangga domestik.

Para importir menangkap kegesitan pemilik dan karyawan dalam upaya berprestasi menjadi acuan yang mengagumkan dunia luar. Hal itu yang dikenal sebagai budaya produktivitas yang tinggi, walaupun ada keseratan ekonomi dewasa ini.

Donald N. Sull & Yong Wan mengulas dalam Made in China, what western managers can learn from Trailblazing Chinese Entreprenuer (2004) mengamati kegesitan sehari-hari para pimpinan dan manajemen China, yang membekali diri dengan pengetahuan dan yang harus berani menggugat diri dalam kemandekan operasi bisnis.

Salah satu konsepnya adalah proses menerapkan inovasi biaya (cost innovation) membuat berbagai perusahaan di luar China grogi. Mengapa demikian? Dengan inovasi itu manajemen China memakai strategi menerapkan teknologi tinggi ke dalam industrinya yang memproduksi secara massal (high technology to price competitive mass markets) sambil menawarkan makin banyak variasi produk dengan tetap mempertahankan biaya rendah.

Tahun 1970an pun industrialis Jepang melakukan proses yang serupa hingga merajai pasaran elektornika dan otomotif dunia, meskipun tidak mereka sebut "inovasi biaya" sampai belakangan ini.

Bayangkan saja, sejak beberapa tahun pasar di Indonesia pun dibanjiri aneka produk buatan China (made in China), mulai dari makanan jadi, mainan, buah buahan, obat obatan, alat rumah tangga sampai elektronika, kendaraan bermotor dan suku cadang produk produk yang diperlukan konsumen. Kenyataan ini sesungguhnya tidak hanya di Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia, bahkan Amerika dan Eropa juga dilimpahi produk produk China.

Pada gilirannya kemudian, China juga melakukan ekspansi dagangnya melalui Internet di http://www.madeinchina.com sehingga transaksi pun dapat berlangsung secara online.

Banyak peneliti dan pengamat luar China kagum bahwa China memproduksi lebih dari 75 persen mainan anak yang tersebar luas di dunia, 60 persen pakaian jadi (garment) dan 35 persen produk telepon seluler (ponsel) yang sudah mendunia.

Jangan terkejut pula kalau suatu saat dalam dua tiga tahun mendatang China akan berhasil membuat pesawat terbang komersil untuk masyarakat dunia. Berbagai produk konsumen China umumnya mulai dari shampo, jepit rambut, kemeja, sepatu, alat listrik dan elektronik sampai kendaraaan bermotor kini cenderung sudah berada di depan pintu konsumen.

Merek bisa saja tidak "ngetren", tapi produk China yang "keren" sudah merambah ke mana-mana. Produsen barang konsumsi umumnya skala kecil dan menengah, kecuali elektronik dan kendaraan bermotor yang skalanya menengah dan besar, karena secara tidak langsung mencontoh pengalaman yang dilalui salah satu perusahaan mereka, yakni Legend atau Haier.

Hal lainnya yang menarik adalah bahwa para industriawan dan manajemen menengah China tidak senantiasa bersedia hanya menjadi rekan pendiam (silent partner) terhadap penanaman modal asing (PMA) dari Jepang, Eropa maupun Amerika.

Para eksekutif bisnis China terus menggali pengetahuan dan kalaupun ada kader partai yang tertarik untuk berpengetahuan bisnis sampai tingat internasionalisasi. Para kader itu digiring oleh pemerintah pusat maupun propinsi untuk mulai belajar dari awal dalam bentuk kursus singkat (short courses) yang berulang-ulang, dan bukan berpolitik melulu.

Selain inovasi biaya, China mengenalkan pula konsep siklus SAPE = Sense, Anticipate, Prioritize, Execute yang merupakan alternatif proses perencanaan dalam strategi yang lain dari yang lazimnya dipraktekkan perusahaan lain. Merek produk PC (Personal Computer)-nya merek Legend dalam keberhasilan proses produksi dengan SAPE cycle dalam proses kewirausahaan dan menanamkan jiwa pada karyawan untuk menghayatinya.

Suatu model mental, agar berani mengantisipasi peluang dan ancaman kemunduran dan kegagalan dengan memilih pada satu arah untuk mampu bersaing, menetapkan prioritas bergerak strategis, dan melaksanakan menjadikan sasaran berwujud (tanglible objectives).

Jadi, di China kreativitas masing-masing industri dalam operasi produksi dan bisnis menarik. Produsen China terkenal dengan inovasi biaya hingga menjadikan hasil produknya terjangkau oleh kelas menengah ke bawah.

Dalam perjalanan waktu, mereka tidak terus menghasilkan produk kelas bawah low-end products dengan strategi harga murah. Sebagai salah satu sarana inovasi biaya, China menerapkan teknologi yang lebih maju (more advanced technology) untuk diferensiasi produk dalam proses produksi masal dengan tetap mempertahankan harga dengan marjin yang biasanya hanya sekitar 15 hingga 20 persen dengan kalkulasi harga yang efisien, sedangkan umumnya produsen Jepang marjinnya sekitar 30 persen, dan Amerika 35 hingga 45 persen.

Berbagai hal itulah yang menjadi tantangan yang menarik bagi usahawan/industriawan Indonesia untuk mempelajari secara seksama bagaimana implementasi inovasi biaya dalam sektor masing-masing dengan budaya produktivitas atas dasar kerja keras dan cerdas, serta terus menggali informasi pengetahuan berbasis teknologi dan ketrampilan dari luar China.

(*) *) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat ekonomi/bisnis Asia Timur, dan Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta. (*)

ANTARA 02/03/09 03:17

Feb 24, 2009

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini,

"ApakahTuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,

"Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab,

"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan.  Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. 
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,

"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,

"Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah  sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu  -46'F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas".

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya,

"Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,

"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.

" Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein . .. .

Feb 10, 2009

Mencermati Tiga Etape Perjalanan Panjang China

08/02/09 09:39

Oleh Bob Widyahartono MA *)
Jakarta (ANTARA News) - Tahun 2009 dalam horoskop China disebut sebagai "tahun Kerbau" berelemen tanah (Earth Ox Year). Sejak melajunya era Deng Xiaoping (1978), masyarakat Indonesia, terutama para elite birokrasi pemerintahan, eksponen bisnis termasuk manajemen menengahnya, mencermati, perkembangan politik, ekonomi dan budaya China, sekalipun banyak yang meragukan makna menimba belajar dari China.

Tanpa menganggap enteng, kini sejak tahun lalu, dunia mengalami krisis ekonomi global yang diakibatkan dan gulirkan ke bagian besar dunia oleh sistem perekonomian kapitalisme berjiwa dan berwujud neo-liberalisme Amerika Serikat (AS), antara lain rontoknya pasar modal Wall Street, dan berbagai kegagalan antara lain sub-prime mortgage AS.
Berbagai kalangan di Indonesia, termasuk penulis, mencemaskan obatnya krisis masih satu dua tahunan. Karena itu, elite birokrasi, bisnis dan kalangan kelas menengah kita perlu belajar dan mencermati perjalanan panjang banga China yang penuh dinamika naik-turun, termasuk dalam berjaga-jaga menghadapi dampak krisis itu memasuki tahun tahun yang akan datang.

Evelyn Lip (PhD Arch) dalam "Out of China",(Addision Wesley Publishing Company 1993) yang dikenal luas sebagai pakar arsitektur internasional menyadari bahwa membutuhkan lebih dari satu masa hidup (life time) untuk menggapai pengetahuan dalam segala bentuk dan kebajikan fisafat China. Artinya, "tiada akhirnya untuk terus belajar" (there is no end in learning = xue wu zhong zhi).

Perkembangan bangsa China sejak 1949, merupakan perjalanan panjang (long march) yang setiap etapenya 30 tahunan. Diawali dengan eranya Mao Zedong 1949-1976 dengan ketertutupan masyarakat dan ekonomi terencana yang ketat.

Kejadian kejadian di China jelas tidak dapat dipahami tanpa suatu rasa hormat pada fenomena Deng Xiaoping sebagai pemimpin pelopor etape keduanya. Impian awal tahun 1980an untuk suatu masa depan yang lebih cemerlang di China makin menampak dalam realita di bawah kepemimpinannya. Nah, marilah kita mengikuti perjalanan panjang sejarah China tiap etapenya

Long march pertama (1949-1978)

Ditinjau dari segi ekonomi sosial, China tadinya suatu masyarakat "non-materialistis" yang dilandasi ajaran Maoisme di bawah kepemimpinan Mao Zedong, China 1949-1976 yang segala kehidupan politik, ekonomi dan budaya diputuskan di Pusat Pemerintahan Beijing. Ketika zaman itu Eropa Timur sebelum era keterbukaan disebut "negara tirai besi" (the iron curtain).

China di bawah kepempimpian Mao Zedong (1949-1976) dijuluki sebagai ketertutupan oleh "tirai bambu" (the bamboo curtain).

Long march kedua (1978-2008)
Ekonomi-pasar sosialis yang digerakkan oleh nilai nilai kemakmuran individual sebagai reformasi yang dipelopori Deng Xiaoping sejak 1978 itu disebut sebut sebagai "gaige kaifang" (membuka diri dan reformasi tata kelola).
Figur Deng Xiaoping tidak hanya banyak dikagumi dalam negerinya tapi oleh dunia luar China. Sepatutnya disebut disini kekaguman oleh negarawan Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad, dalam "Globalization with common Development" (Oktober 2001) yang antara lain mengemukakan tidak perlu diragukan bahwa salah seorang agung (great men) abad 20 adalah Deng Xiaoping,

Bapak Empat Modernisasi China. Juga tidak usah diragukan bahwa dua dari petuah bijaksana (wise sayings) harus berada dalam benak pikiran kita ketika kita berbicara mengenai isu isu besar masa kini, bahkan setiap masa.

Kedua petuah tidak bisa diabaikan sebagai sarana untuk menganalisis dan sebagai pedoman bernilai dalam setiap tindakan kita. Deng berucap bahwa kita harus mencari kebenaran dari fakta. Artinya, kita jangan mendeduksi kebenaran hanya dari harapan harapan, sekalipun harapan harapan itu terhitung mulia.

Status historis dan signifikansi teori Deng Xiaoping yang dikenal sebagai "empat prinsip dasar" yang oleh Deng sendiri disebut sebagai langkah awal reformasi dan kebijakan membuka diri (gaige kaifang).

Prinsip dasar modernisasi , antara lain menumbuhkembangkan pemikiran dan mencari kebenaran dari fakta Pemahaman yang jelas tentang apa yang disebut รข��"sosialisme dan bagaimana membangunnya" disertai reformasi menyeluruh.

Digantinya prinsip pertentangan kelas dengan pembangunan ekonomi dan digantinya ekonomi terencana (planned economy) dengan ekonomi pasar sosialis. Penilaian yang cermat dan ilmiah atas perubahan perubahan dalam situasi global. Suatu sistem sosialisme dengan karakteristik China.

Makin jelas visi Deng Xiaoping "gaige kaifang" yang tidak terbatas pada ekonomi, tetapi sudah memasuki peta geopolitik sosial budaya Ungkapan pragmatisterkenal Deng antara lain tidak peduli apakah kucing itu hitam atau putih warnanya, tapi kucing itu harus menangkap tikus dan menjadi kaya itu mulia.

Teorinya tidak mutlak untuk negaranya, tapi menjadi panduan para penerus elite pemimpin bangsanya.

Penerus kepemimpinan China, duet Jiang Zemin/Zhu Rongji (1992-2003) dan Hu Jintao/Wen Jiabao (2003-2008) dan periode keduanya. Hu/Wen tetap memantapkan visi Deng Xiaoping dalam ber-internasionalisasi.

Yuan Ming, gurubesar hubungan internasional pada Universitas Beijing, sebagai pakar mengenai Amerika dalam wawancaranya dengan Thomas L. Friedman yang dituangkan dalam "Understanding Globalization: The Lexus and the Olive Tree" (2000) tidak sepenuhnya mendukung istilah globalisasi.

Yuan Ming mengungkapkan pola pikir kritis China terhadap arogansi global Amerika, dengan menyatakan bahwa pemimpin politik China dalam ungkapan ungkapan publik tidak memakai istilah globalisasi, tapi lebih suka memakai istilah modernisasi.

Globalisasi menunjukkan sesuatu yang tidak digemari oleh pikiran China karena didesakkan oleh Barat atau Amerika. Sebaliknya, modernisasi adalah sesuatu yang dapat dikendalikan (something we can control).

Ada suara menyegarkan dari pihak China dalam konperensi WTO, 10-14 September 2003 lalu di Cancun, Meksiko. Sebagai anggota baru, Cina menyatukan diri dengan negara negara dunia ketiga, bersama Brasil dan Indonesia, menjadi sponsor utama kelompok 21 yang menuntut penghapusan subsidi produk pertanian AS dan Uni Eropa.

Sikap China benar benar berpihak pada negara negara miskin. Kini memasuki putaran WTO Doha 2008 tentunya kelompok 21 tetap memiliki kebersamaan bahka sampai siding WTO tahun lalu.
Memasuki long march ketiga mulai 2008

Alih generasi pemimpin China ke generasi ke empat Hu Jintao/Wen Jiabao mencuatkan dominasi inti teknokrat dalam mengendalikan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dalam hubungan ini adalah pragmatisme dengan arus teknokrat "si hua" atau empat mengubah remaja, mengubah menjadi bersemangat kerja keras dan cerdas, mengubah menjadi profesional dan mengubah menjadi berpendidikan. Jadi kader kader Partai tidak boleh lagi hanya berbekal pengetahuan yang berasal dari buku indoktrinasi.

Setiap bangsa dapat bangkit dan mencapai tingkat kemakmuran oleh budaya produktivitas. Budaya ini juga diresapi oleh bangsa China. Budaya ini muncul akibat persaingan antar-bangsa yang mencuat setelah terjadinya gejala globalisme dan menjadi menarik karena terlibatnya peran negara dalam persaingan, dan elemen kultur tersebut.
Selain itu, rencana pembangunan infrastruktur fisik jalanan, kereta api dari Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat, pembangunan Chu Chiang river Delta dan industrial parks melengkapi kemajuan kawasan industri yang sudah ada di Kawasan Timur.

Yang mengusik kita adalah apakah memasuki eranya Hu Jintao ini sudah mulai tersusun Model modernisasi China? Bangsa China sendiri merasakan bahwa pejabat China bukan penghalang, bahkan malahan menjadi pendorong beroperasinya ekonomi pasar sosialis, yang tanggap dan tangguh merespons krisis ekonomi global yang digelindingkan As dengan kapitalisme yang berjiwa neo-liberalisme diawali dengan rontoknya Pasar Modal Wall Street tersebut di atas.
Inilah beberapa butir yang dapat kita pelajari sebagai bahan tanpa menjiplak mentah mentah proses dan apa yang berlaku bagi China.

*) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat studi pembangunan, terutama kawasan Asia Timur; dan Lektor Kepala Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar).

Feb 2, 2009

Dari Komunitas Ekonomi ASEAN ke Regionalisme Asia Timur

Bob Widyahartono M.A. *)


Jakarta (ANTARA News) - Akhir tahun 2007, terungkap para pemegang kendali diplomasi politik dan ekonomi kita dengan upaya melibatkan kalangan pengamat dan akademisi baik di Jakarta maupun di daerah, tengah merumuskan kelanjutan langkah-langkah deklarasi Komunitas Ekonomi Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara/ASEAN (ASEAN Economic Community) yang disepakati dalam Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 18-20 November 2007 lalu di Singapura dengan target tahun 2015.

Kini kita memasuki tahun 2009, lalu apa saja visi yang lebih konkrit untuk dibawa akhir bulan Februari 2009 dalam KTT ASEAN di Thailand. Jangan lupa, kini dunia mengalami krisis ekonomi global dengan menjalarnya krisis ekonomi Amerika Serikat (AS) sejak 2008. Masih mampukah lembaga-lembaga multinasional berperan ikut mengatasi krisis tersebut?

Sejarah globalisasi versi AS sejak dasa warsa 1980an membawa dampak yang tidak adil bagi Asia. Terjadilah persaingan bebas dalam arti yang kuat yang menang (the winner takes all), dan dalam ekonomi pasar bebas, tetapi tidak adil (free market, but no fair market ).

Lembaga-lembaga multilateral, layaknya Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi Pasar Bebas Dunia (WTO) dalam proses pengambilan keputusan atas persoalan persoalan seperti disput antar-anggota, tuduhan dumping yang dihadapi dunia, termasuk Asia, didominasi oleh AS hingga proses pengambilan keputusan seringkali menghadpi jalan buntu (deadlock).

Berbagai lembaga multilateral itu dalam sejarahnya menunjukkan kegagalan dalam membawa misi dan visi orisinalnya dalam menciptakan keadilan. Globalisasi sebagai sarana masih saja belum berhasil dalam meniadakan cara-cara beggar thy neighbor, yang dapat diartikan sebagai praktik kebijakan internasional yang menyangkut penerapan larangan/hambatan sepihak, sehingga negara lain, bahkan mitra dagang, dirugikan. Para pemenang (winners) hanyalah negara-negara besar yang tergabung dalam G-7.

Sedangkan, mayoritas negara-negara berkembang yang terdesak dipersilakan menderita lebih lama. Marilah kita mencermati ungkapan dua peneliti senior Jepang yang tergabung dalam Institute of Developing Economies (IDE/JETRO ).

Pertama, Kunimune Kozo dalam Asian Economic Crisis 97/98: Issues in Macroeconomic Imbalances, Capital Outflows and Financial Crisis yang menyoroti peranan IMF, antara lain:
1) Kebijakan ekonomi , termasuk kebijakan kurs mata , tidak memberi suatu respon yang tepat guna terhadap masuknya secara besar-besaran modal asing,
2.) Pengawasan atas lembaga-lembaga keuangan domestik, tidaklah memadai. Krisis finansial menjadi makin buruk, dan karena itu banyak pihak bersikap pesimistis terhadap pembangunan masa depan. Ternyata, jauh-jauh hari ia meramalkan masa depan IMF yang tidak cerah.

Sementara itu, Kunimune bersama Chie Kashiwabara dalam The Role of the IMF mengulas secara lebih tajam bahwa "... IMF merupakan lembaga dengan sejumlah staf yang terhitung berbobot. Namun, ia merupakan suatu bentuk birokrasi.
Kelemahan besar lembaga-lembaga birokrati adalah bahwa mereka tidak sanggup mengurangi beban kerja yang harus dilakukan, dan malahan mereka cenderung menciptakan lebih banyak upaya."

Padahal, menurut mereka, seharusnya peranan IMF dibatasi, agar memungkinkan mengembangkan sumber daya manusianya dengan suatu cara yang terfokus. Secara realistis, IMF itu tidaklah maha kuasa. Betapa pun hebatnya kompetensi stafnya, IMF tidak mungkin menulis resep generik dan mengawasi pengobatan untuk setiap masalah krisis ekonomi.

Dalam kaitan tersebut, Kunimune bersama Chie Kashiwabara menilai, peranan para politisi negara-negara donor untuk mengisi titik-titik lemah dari lembaga lembaga birokrasi. Dalam kasus IMF, para politisi dari negara-negara donor harus mengambil prakarsa, dan menunjukkan cara membatasi peranan IMF dan membatasi beban kerjanya.

Sedangkan, Bank Dunia (World Bank/WB) baru-baru ini yang berada di bawah kendali AS dan Uni Eropa (UE) berupaya menerapkan restrukturisasi dengan implementasi kerjanya masih menjadi pertanyaan, terutama menyangkut seberapa layak hasilnya juga bagi negara negara berkembang. WTO yang beranggotakan 146 negara, dan sekira 80% adalah negara berkembang juga terlihat tetap saja negara maju, terutama AS dan beberapa negara UE yang mendominasi proses pengambilan keputusan dalam bidang pertanian, investasi, kebijakan persaingan, lingkungan hidup, dan pembelanjaan pemerintah.

Suatu titik terang adalah dengan kekompakan negara berkembang sejak masuknya China sebagai anggota WTO pada 2001. Dengan makin kompaknya negara-negara berkembang dalam sidang tahunan WTO, maka membuat negara maju pimpinan AS tidak berhasil dalam memperoleh kesepakatan, sampai putaran pertemuan di Doha (Doha round) yang hingga kini mengalami kebuntuan, dan diharapkan dalam tahun ini ada langkah awal solusinya, meskipun akan sulit memperoleh kesepakatan. Ternyata, kelanjutan putaran Doha di Jenewa (Swiss) pada Agustus 2008 juga mengalami kegagalan mencapai kesepakatan
Beragam kritik dan protes terbuka, baik dalam sidang tertutup maupun oleh kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari berbagai negara terhadap globalisasi justru. Hal itu dimulai selama putaran di Seattle tahun 2000 dan tahun-tahun berikutnya. WTO dicap dalam berbagai demonstrasi terbuka oleh LSM sebagai simbol ketidaksetaraan dan hipokrisi AS dan beberapa negara maju UE. Sudah sejak 2000, AS yang terus mendesak negara-negara berkembang tidak memberi subsidi pada industrinya. Sebaliknya, AS sendiri mengucurkan miliaran dolar AS subsidi sebagai proteksi terhadap para petaninya untuk menghambat persaingan dari negara-negara berkembang.

Oleh karena itu, Noorena Hertz (2001) dalam The Silent Take-over: Global Capitalism and the Death of Democracy secara gamblang mengungkapkan, agar komunitas dunia tidak terjebak dalam pandangan yang membingungkan antara "demokrasi dengan kapitalisme".

Elite politik negara adi daya dan korporatnya (Multi-Nasional Company/MNC) secara implisit mau menang sendiri dalam sikap pandang tentang globalisasi dan wujudnya WTO. WTO sendiri sejauh ini belum berkutik selain membentuk berbagai divisi: badan banding, divisi penilai dan divisi legal yang diarahkan untuk memecahkan disput antar-anggota WTO.

Suatu dunia yang diglobalisasi (a globalised world) tidaklah akan menjadi suatu dunia yang demokratis murni. Mau tak mau WTO menjadi milik negara-negara adi daya (powerful dominant countries). Melalui peranan politisinya, mereka akan memaksakan kepentingan mereka kepada negara-negara lainnya, baik secara eksplisit maupun tak kentara. Meskipun demikian, negara-negara berkembang harus menyadari dan mengakui bahwa globalisasi sudah menjadi realita di dunia ini.

Hal tersebut tidak berarti bahwa negara berkembang harus pasrah menerima nasib. Pengamatan menunjukkan bahwa tidak banyak perubahan yang terjadi dalam pengaturan institusi ekonomi dan moneter, serta tata kelola IMF, Bank Dunia dan WTO.

Sejauh ini, hal yang terjadi adalah keteraturan waktu penggantian Direktur Ekskutif di kedua institusi, walaupun awalnya menyatakan akan melakukan reformasi operasi lembaga. IMF selalu dipimpin oleh seorang direktur berkebangsaan UE, sedangkan Bank Dunia ditunjuk dari AS.

Peranan korporat (MNC) AS dalam mendesakkan peraturan internasional tetap saja terjadi. Sejauh ini pula banyak sekali peraturan internasional muncul dari kasak kusuk MNC, dalam arti bukan politisi tetapi bisnis terkemuka yang setengahnya mendikte. Terjadilah praktik MNC yang mengarahkan politisi mengenai apa yang harus para politisi negara berkembang kerjakan. MNC dan politisi negara berkembang banyak yang menjalani praktik "dwi-fungsi" (pengusaha-penguasa) yang sampai kini masih menikmati sebagai pihak paling diuntungkan, sehingga berupaya mempertahankan statusnya (status quo), yakni posisi mereka dalam mempengaruhi lembaga-lembaga internasional dan globalisasi.

Visi Regionalisme ke Asia Timur

Oleh karena itu, dalam kebersamaan ASEAN harus diperluas ke Asia Timur dalam menghadapi tata kelola yang tidak adil menghadapi gaya IMF, Bank Dunia, WTO bersama MNC-nya. Indonesia harus berani muncul dengan rumusan strategi total diplomasi baru. Artinya, dalam kebersamaan kelompok menggerakkan strategi "angsa terbang bersama" (flying geese), dan bukan "angsa-angsa yang tidak kompak, terbang sendiri-sendiri" (the individual flying).

Prakarsa semacam itu merupakan proses dengan "rencana dan program, serta ketepatan waktu", atau tanpa menunda implementasinya, sehingga bukan memunculkan rumusan yang indah, tapi implementasinya minim.

Deklarasi Komunitas Ekonomi ASEAN yang dipelopori perumusannya oleh delegasi Indonesia repotnya oleh beberapa kalangan di dalam negeri dianggap agak ambisius. Alasannya, karena tahap pembangunan yang begitu senjang, kecil harapan integrasi ekonomi menjadi realita tahun 2015, tujuh tahun mendatang.

Dapat dimengerti bahwa pesimisme tersebut, karena substansi deklarasi dan kerangka kerja strategis komunitas tersebut belum disosialisasikan, terutama di kelas menengah masyarakat, baik di pusat maupun daerah.

Kelas menengahlah (tanpa bentuk formal) dan dalam lingkungan masing-masing, termasuk kalangan akademisi dapat menjadi daya penggerak/motivator dengan kekuatan moral berperan serta dalam diplomasi ekonomi.

Dalam kebersamaan menggerakkan diplomasi total itu, pihak Indonesia perlu menyadari bahwa menciptakan suatu komunitas demikian itu harus meyakini bahwa karakternya dalam arti budaya kerja (productivity culture) adalah ASEAN. Artinya, diresapi dan dijiwai oleh toleransi, saling menghargai (moderation), pluralisme budaya, dan fleksibilitas dalam berinteraksi.

Di bawah payung yang besar itu, komunitas dapat bergerak dengan fleksibilitas kelompok-kelompok kerja dalam jiwa keterbukaan untuk mencapai visi komunitas yang riil. Ini bukan hal yang cepat selesai, tapi membutuhkan keuletan dan konsistensi.

Hendaknya bangsa ini perlu mencermati pemikiran yang ditulis oleh Qian Qichen, mantan Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat China, dalam Towards a bright future of regionalism (Global Asia, September 2006): "Regionalisasi dan globalisasi merupakan proses yang sejajar yang tidak bertentangan. Kita harus memiliki keberanian politis yang memadai untuk tidak membiarkan konflik menghalangi arah ke tingkatan tingkatan lebih tinggi dari kerjasama regional. Jangan sekali-kali mencari hegemoni. Pembangunan secara damai dengan tiga hal rasional, yakni bertetangga baik, damai dengan tetangga, dan kemakmuran pada tetangga akan memberi wujud riil abad Asia.."

Kelompok elite, eksponen bisnis dan kalangan akademisi hendaknya pula terlibat membawakan sikap pandang positif, menanggalkan budaya menunda-nunda dalam implementasi atas dasar rencana kerja (time line) dan program aksi yang didukung anggaran memadai dalam memberi substansi Komunitas Ekonomi ASEAN, kemudian regionalisme Asia Timur.

*) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat studi pembangunan, terutama wilayah Asia Timur; dan Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta


22/02/09 13:26

Feb 1, 2008

Bubby manggil ibunya

Laporan pagi ini dari ibunya bubby,  "Tadi pagi-pagi, sekitar jam 3 bubby udah mulai bisa bicara "ii..bu...ibu...ibu...".  Ibu, neneknya bubby maksudnya, sampai ikutan heran."  Hehehe... pasti senang banget tuh my hunny dengar bubby dah bisa manggil ibu...ibu...  
Hari raya Kuningan yang menyenangkan.  Bubby walau masih pilek dan batuk dan tambah berkembang belajar bicaranya.  Selamat ya bubby.  Selamat hari raya Kuningan juga



 

Jan 17, 2008

Mo mandi dulu ah...

My personality neh...

Click to view my Personality Profile page

Jan 10, 2008

Bubby Mekamen

Oct 7, 2007

Gigi "Nakal"

Memuat lagu dalam Blog, mmmh... menarik juga ide ini.



Sedang iseng browsing eh dapat lagunya Gigi "Nakal", maka coba2 apakah memungkinkan untuk memuatnya dalam blog-ku ini. Tentunya bukan bertujuan untuk membajak, namun mendedikasikan ke'nakal'an Gigi dalam blog ini sebagai satu upaya belajar teknologi internet yang kian canggih ini.





Silakan dinikmati...

Sep 8, 2006

Persimpangan lagi

Situasi seperti ini sering muncul di perjalanan waktuku. Saat-saat harus menentukan langkah di persimpangan jalan. Tak ada yang menjamin sebuah kesempurnaan atau kondisi ideal, jalan manapun yang mau kupilih.
Tak terasa sudah tiga tahun lebih daku beraktifitas di Wakatobi ini. Jalan masih panjang dari sebuah cita-cita wilayah kelola perikanan yang jadi mimpi ideal. Sudah banyak pelajaran yang kuperoleh dari setiap langkah aktifitas-aktifitas selama ini. Sudah mengkristal keyakinanku bahwa bumi yang kupijak ini adalah surga bagi dunia perikanan. Sebuah investasi waktu dan pembelajaran sudah ditanamkan. Pertanyaannya kemudian, berapa jauh aku mau terus mengikuti proses yang tidak ada jaminan masa berakhirnya ini. Perjalanan yang panjang dengan penuh dinamika yang amat menantang.
Sementara persimpangan jalan yang lain mendekatkanku pada arah mengaktualisasikan diriku sebagai pribadi yang harus membumi. Mungkin akan sedikit menjauh dari segala mimpi-mimpi profesiku. Namun akan mengajakku lebih memahami arti sebuah keluarga, dengan segala keterbatasan, keberbedaan dan "hal-hal yang biasa" -kata istriku. Hal-hal yang kata satu produsen rokok "bikin hidup lebih hidup". Jauh dari kesempurnaan, namun merupakan sebuah kelengkapan hidup yang akan membuat diri kita makin kaya. Kaya akan keberagaman suasana hati dan harapan hidup.
Seperti air yang mengalir, kubiarkan diriku saat ini mengalir mengikuti alur ini. Tak ada yang perlu disesali dari perjalanan manapun yang harus ditempuh. Semua ini bagai mengisi waktu, sambil menunggu persimpangan-persimpangan lain yang akan kulewati. Sampai sebuah pal batas perjalanan menyambut suatu hari nanti.

Sep 2, 2006

Beached whale in Bali saved by locals

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Wed, 12/31/2003 2:31 PM 

Animal lovers and tourists try to save a beached whale on the famous Nusa Dua Beach in Bali. The 4.5-meter-long whale as beached on Tuesday on the white-sand beach behind the Grand Hyatt Hotel.

The whale was first spotted by Dewa Gde Mertana, an employee of the five-star hotel, at 5 a.m local time. 

""I was doing the morning cleaning when a strange sound alerted me to the presence of the giant fish,"" said Mertana. 

Mertana immediately called for others to assist him in saving the whale. Hotel employees rushed to the scene and, using an excavator, transported the whale to a safer place. 

By 7 a.m, the whale had been lowered into a makeshift plastic pond filled with sea water. A tent was erected over the pond -- located somewhere in the hotel compound -- to protect the whale from the scorching Bali sun. Hotel employees and tourists constantly poured water over the powerless creature, while others affectionately held and stroked its body. ""It was a very critical period. By continuously soaking her with salt water, the rescuers significantly increased her chances of survival,"" Windia Adnyana of the World Wide Fund for Nature (WWF) later said. 

Several of WWF's scientists, who had inspected the whale, later concluded that it was either a Southern or Gervais' Beaked whale. ""Anyway, it is probably a female, because we do not see any teeth in her mouth,"" WWF's Veda Santiaji said. 

Several hours later, in the presence of a crowd of hundreds of people, the whale showed signs of recovery. It grew restless and jets of water spurted from its blowhole. 

The whale was finally transported out to sea in a boat at around 11.45 a.m. The lively cheers of the crowd accompanied the whale's release. -- I Wayan Juniartha

Aug 1, 2006

Tujuh Dosa Besar*

Mahatma Gandhi pernah mengatakan bahwa adatujuh hal yang menghancurkan kita. Kesemuanya berkaitan dengan kondisi sosial danpolitik.
Obat penangkal dari setiap "dosa besar" iniadalah suatu standar eksternal yang eksplisitatau sesuatu yang berdasarkan pada prinsipdan hukum alam, bukan pada nilai-nilaisosial.
1. Kekayaan tanpa kerja.
Ini mengacu pada praktek mendapatkansesuatu tanpa modal atau usaha, hanyamemanipulasi pasar, asset, orang danbarang, sehingga anda tidak harus bekerjaatau menghasilkan nilai tambah. Sekarangbanyak profesi yang berkenaan denganmenumpuk kekayaan tanpa bekerja,mengumpulkan banyak uang tanpa membayarpajak, mengambil keuntungan dari dana-danapemerintah tanpa menanggung bagian bebankeuangan yang wajar, dan menikmati semuakeuntungan dari status suatu warga negaradan keanggotaan suatu badan hukum tanpamau memikul resiko atau tanggung jawab apapun. Ini semua didasarkan pada suaturencana cepat kaya atau spekulasi yangmenjanjikan pelakunya dengan iming-iming,"Anda tidak perlu bekerja untuk menjadikaya." Motif emosional yang utama adalahketamakan.
Tingkah laku dan norma-norma sosial yangdemikian akan menimbulkan distorsi.Bagaimanapun apabila anda menjauhi hukumalam, maka cara penilaian anda akanterpengaruh secara negatif. Anda akanmendapatkan ide-ide yangmenyimpang.
Sering kita ketahui banyak eksekutif yangmenceritakan bagaimana mereka meninggalkanhukum dan prinsip-prinsip alam itu selamabeberapa waktu, lalu mulai secaraberlebihan membangun, meminjam uang dan
berspekulasi tanpa benar-benar membacaarus atau memperoleh umpan balik yangobyektif. Kini mereka menanggung hutangbesar. Mungkin mereka harus bekerja kerashanya untuk bertahan hidup.
Kembalilah ke hal-hal dasar. Tangankembali ke bajak. Tak perlu ragu untukbersikap konservatif, berpegang teguh padahal-hal yang mendasar, dan lebih sukatetap kecil namun terbebas dari hutang.
2. Kenikmatan tanpa suara hati.
Pertanyaan utama dari orang yang belummatang, egois, dan suka kenikmatan adalah,"Apa manfaatnya bagi saya? Apakah iniakan menyenangkan saya? Apakah ini akanmemudahkan saya?" Banyak orang mendambakankenikmatan namun mengabaikan suara hatidan tanggung jawab, bahkan merekamelupakan atau meninggalkan sama sekalikeluarganya dengan alasan mengerjakanurusan mereka sendiri. Merekamenganggapnya sebagai bentuk kemandirian.Tetapi kemandirian bukan keadaan yangpaling dewasa, hanya sebuah posisi ditengah jalan menuju kondisikesalingtergantungan - kondisi yang palingmaju dan matang.
Kenikmatan tanpa suara hati merupakansalah satu godaan bagi para eksekutif saatkini. Banyak orang menganggap dirinyatelah sukses lalu merasa bebas untukmelakukan apa yang diinginkannya. Merekamencari kenikmatan.Padahal kenikmatantanpa suara hati hanya menimbulkan lukadan sakit hati bagi orang-orang lain.
Suara hati adalah tempat bersemayamnyakebenaran dan prinsip-prinsip abadi -monitor internal hukum alam. Belajarlahuntuk memberi dan menerima, tidak hidupegois, peka, penuh perhatian.Jika tidak,maka tidak akan ada rasa tanggung jawabsosial dalam kegiatan-kegiatan kenikmatankita.
3. Pengetahuan tanpa karakter.
Bagaimanapun berbahayanya pengetahuan yangsempit, jauh masih lebih berbahayapengetahuan tanpa karakter yang kuat danberprinsip. Perkembangan intelektual yangmurni tanpa perkembangan karakter internalyang sepadan sama halnya denganmenyerahkan mobil sport bertenaga tinggike tangan remaja yang kecanduan obat bius.
Sayangnya ada saja orang yang tak sukadengan pendidikan karakter, karena merekamenganggap, "Itu adalah urusan sistemnilai anda." Tetapi anda bisa mendapatkanseperangkat nilai umum yang disetujuisemua orang, bahwa kebaikan, keadilan,martabat, sumbangsih, dan integritasadalah patut untuk dipertahankan. Takseorang pun akan menentang anda dalam halini.
Jadi, marilah memulai dengan nilai-nilaiyang tidak dapat dipertentangkan kemudianmemasukkan nilai-nilai itu ke dalam sistempendidikan, pelatihan dan pengembanganperusahaan kita. Marilah mencapaikeseimbangan yang lebih baik antaraperkembangan karakter dan intlektual.
4. Bisnis tanpa moralitas (etika).
Adam Smith, dalam bukunya MoralSentiments, menjelaskan betapa mendasarnyadasar moral bagi keberhasilan sistemekonomi; yaitu bagaimana kita salingmemperlakukan satu sama lain, semangatuntuk berbuat baik, melayani, memberibantuan. Apabila kita mengabaikan danmembiarkan sistem ekonomi berjalan tanpadasar moral serta tanpa pendidikanberkelanjutan, kita akan segera membentukmasyarakat dan bisnis yang tidak bermoral,kalau bukan asusila.
Bagi Adam Smith, setiap transaksi bisnismerupakan tantangan moral agar kedua belahpihak memperoleh hasil yang adil. Keadilandan kemauan baik dalam bisnis adalah tiangpenyangga sistem perdagangan bebas yangdisebut kapitalisme. Sistem ekonomi kitamerupakan hasil dari demokrasikonstitusional dengan pemenuhan hak-hakminoritas juga. Semangat menang-menangadalah semangat moralitas, semangat salingmenguntungkan, semangat keadilan bagisemua yang terlibat.
5. Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan.
Apabila ilmu pengetahuan semuanya menjaditeknik dan teknologi, ilmu pengetahuandengan cepat akan merosot menjadi manusiamelawan kemanusiaan. Teknologi berasaldari paradigma ilmu pengetahuan. Jikahanya sedikit sekali tujuan kemanusiaanyang ingin dicapai oleh teknologi, makakita akan menjadi korban teknologi kitasendiri. Bagaimana pun teknologi harusbersandar pada dinding yang benar; yaitukemanusiaan. Bila tidak, maka evolusi ataubahkan revolusi dalam ilmu pengetahuantakkan atau sedikit sekali membawa padakemajuan manusia yang nyata dan berharga.
Satu-satunya hal yang belum berevolusiadalah hukum dan prinsip-prinsip alam,misal, sebelah utara pada kompas takpernah berubah. Ilmu pengetahuan danteknologi telah mengubah wajah hampirsemua yang lain. Tetapi hal yang mendasarmasih tetap berlaku seiring denganberlalunya waktu.
6. Agama tanpa pengorbanan.
Tanpa pengorbanan kita mungkin aktif dalamkelompok agama namun tidak hidup beriman.Kelompok agama hanyalah tirai sosial agamabelaka. Tidak ada kerja sama nyata denganorang-orang, atau berusaha lebih keraslagi, atau mencoba memecahkan masalah-masalah sosial kita.
Melayani kebutuhan orang lain memerlukanpengorbanan, setidaknya pengorbanankesombongan dan prasangka diri kitasendiri. Jika sebuah agama hanya dilihatsebagai suatu sistem hierarki biasa,pemeluknya tidak akan memepunyai semangatpelayanan atau semangat ibadah yangmendalam. Sebaliknya mereka akanmemusatkan perhatian pada ritual lahiriyahdan semua bentuk-bentuk luar agama yangbisa dilihat. Namun, mereka bukan orang-orang yang berpusat pada TUHAN atauprinsip.
Pemimpin-pemimpin tangguh yang bersemangatpengabdian tinggi memiliki kerendahanhati. Dan, ini adalah tanda-tanda orangyang benar-benar beriman. Ada banyak CEOyang merupakan pemimpin abdi yang rendahhati, yang mengorbankan kebanggaan danmembagi kekuasaan mereka.
Mereka memiliki pengaruh baik di dalam dandi luar perusahaan.
Sedihnya banyak orang menginginkan "agama"atau paling tidak berpenampilan beragamatanpa mau melakukan pengorbanan apa pun.Mereka menginginkan spiritualitas yangbesar namun tak mau berpuasa sedikit punatau diam-diam memberikan pelayanan.
7. Politik tanpa prinsip.
Anda lihat banyak politisi menghabiskanbanyak uang untuk membangun citra,meskipun citra itu dangkal, tiada isi,hanya untuk memperoleh suara dan jabatan.
Bila ini terjadi, maka sistem politik akanbekerja terlepas dari hukum-hukum alam.Padahal Deklarasi Kemerdekaan AmerikaSerikat menulis, "Kami percaya kebenaran-kebenaran ini dengan sendirinya, bahwaManusia diciptakan setara, bahwa merekadiberkati oleh Pencipta dengan Hak-haktertentu yang melekat pada dirinya, antaralain hak akan kehidupan, kemerdekaan, danpencarian kebahagiaan."
Kunci bagi masyarakat yang sehat adalahmenciptakan kemauan sosial, sistem nilai,selaras degan prinsip-prinsip yang benar.Apabila tak ada prinsip, tidak ada yangbisa anda jadikan tempat bergantung.Prinsip adalah kompas penunjuk arah utarayang sejati. dan indikator bagi landasantempat kita membangun sistem nilai. Dan,keduanya berjalan selaras.
Adalah ironi, bila banyak perusahaanmencanangkan pernyataan misi yang agung,tetapi di jalan raya orang ditodong disiang bolong, atau banyak orang yangdirampas harga diri, uang, dan jabatannyatanpa melalui proses yang semestinya.
Dalam film The Ten Commandements, NabiMusa berkata pada Firaun, "Kami harusdipimpin oleh hukum ALLAH, tidak olehmu."Sesungguhnya ia berkata, "Kami tidak akandiperintah oleh seseorang kecuali jikaorang itu merupakan penjelmaan hukum."
Di dalam masyarakat dan organisasi-organisasi yang terbaik, hukum alam danprinsip-prinsip berlaku - inilahkonstitusi - dan bahkan orang-orang puncakharus tunduk pada prinsip-prinsip itu. Takseorang pun lebih tinggi dari hukum.


* Diringkas dari Principle CenteredLeadership oleh Stephen R. Covey.

Jul 13, 2006

Puisi ini mengingatkan qta dan aku...

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan, Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yangmulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya, Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Jul 12, 2006

Kliping Suara Pembaruan 30 Juni 2006

Idealisme Seorang Pencinta Lingkungan
Veda Santiadji [Pembaruan/Unggul Wirawan]

Sebagai seorang aktivis lingkungan, Veda Santiadji tak mengusung idealisme dengan harga mati. Selain kompromi, ada strategi. Jangan heran, berburu penyu pernah dilako- ninya. Bahkan Veda pun sempat hengkang dari World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia.
Meskipun dianggap "buangan", dia tetap memilih jurusan kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah lulus, dia memang tak ingin bekerja kantoran. Tak sekalipun terbayang bekerja di Jakarta. Maka ketika datang tawaran dari WWF Indonesia, Veda tak menyia-nyiakannya.
"Tahun 1994, saya melakukan ekspedisi di Wakatobi dan mendapat dukungan WWF. Dari sana, saya kenal tapi tidak terbayang kerja di WWF. Setelah lulus, saya kerja volunteer di Bali selama tiga bulan. Saat uang sudah habis, saya pamit pulang. Tapi oleh pemimpin proyek, Pak Ketut, saya malah ditawari kerja," kenang pria kelahiran Surabaya, 24 Agustus 1971 itu.
Kini Veda menjabat posisi Outreach & Community Development Coordinator WWF Indonesia. Dia sudah malang melintang di berbagai kawasan Indonesia. Selain terumbu karang, Veda cukup berpengalaman soal konservasi penyu. Pada suatu ketika, bahkan dia ikut membaur bersama para pemburu penyu.
"Dulu di Desa Pranca, Kabupaten Jembrana, ada satu desa pemburu penyu. Responsnya tidak terbuka, tapi akhirnya saya bisa masuk. Saya ikut berburu bersama mereka. Kami bahkan masuk Taman Nasional Meru Betiri. Setelah seharian penuh, kami hanya dapat satu penyu," kata suami Parama Dewi yang juga aktivis lingkungan itu.

Tidak Ekonomis
Berdasarkan pengalaman itulah, Veda mulai melancarkan misinya. Pelan-pelan, dia membuka kesadaran bahwa populasi penyu sudah jauh berkurang. Berburu penyu tidak lagi memiliki nilai ekonomis. Selain tidak sebanding antara hasil tangkapan dan ongkos melaut, pemburu penyu berisiko tertangkap petugas jagawana.
"Mereka baru mau terbuka, kalau kita pasang kuping daripada kita ngomong. Ketika masuk komunitas dalam program konservasi, yang paling dulu dipasang adalah telinga. Kita harus tahan enam bulan hingga satu tahun hanya untuk sekadar mendengarkan alasan mengapa mereka melakukannya," ujarnya.
Alasan mereka berburu penyu ternyata karena tidak mengenal pekerjaan lain. Dahulu mereka masih mampu menangkap enam-tujuh ekor penyu dalam sehari. Tanpa sadar, mereka pun mengeluhkan kondisi tersebut. Jika tak ada lagi penyu yang dapat ditangkap, mereka akan kehilangan mata pencarian.
"Jadi tanpa kita kasih pelajaran atau nasihat, sebenarnya mereka sudah resah. Kita harus bisa mencari momen, di mana kesadaran itu muncul. Bahkan seorang koordinator pemburu penyu akhirnya bisa saya suruh bercerita kepada masyarakat tentang bagaimana susahnya menemukan penyu," paparnya.
Menurut Veda, persoalan kelembagaan antara WWF dengan masyarakat bisa direduksi jika orang yang masuk benar-benar mau menggunakan bahasa setempat. Strategi terpenting adalah berkomunikasi dan berinteraksi. Sebagai petugas konservasi, tidak selalu harus antieksploitasi. Sikap yang terlalu kaku justru sering tidak efektif dan memicu konflik.
"Coba terus sampai ada titik momentum, jadi tidak harus ada pertentangan. Jika malah dipaksakan, malah timbul konflik berkepanjangan. Pada akhirnya, investasi waktu yang dibutuhkan sama saja," ia menambahkan.
Lebih jauh mengenai idealisme dan prinsip, Veda mengaku pernah mengalami perbenturan. Pada 1998, dia mendampingi se- orang profesor Yunani dan sejumlah aktivis dari Jerman ke Kalimantan Timur dalam rangka konservasi penyu. Mereka merasa kecewa dan marah karena sikap Veda justru permisif terhadap pemburu penyu. Mereka bahkan menyebut WWF tidak pantas punya staf seperti dia.
"Saya juga sudah kesal. Lalu saya katakan, mungkin saya tidak terlihat konservatif, tapi paling tidak saya punya keyakinan dan cara. Persoalan saya layak atau tidak, biar WWF yang tentukan. Sebagai pribadi saya tersinggung. Kalau hanya karena bawa uang, kenapa tidak Anda amankan saja penyu-penyu di Jerman," balas Veda.
Kejadian itu berbuntut panjang. Program konservasi penyu lalu dibatalkan. WWF beralasan dana tidak mencukupi. Tetapi Veda bersikeras untuk tetap menjalankan program dengan atau tanpa WWF. Bahkan selanjutnya, Veda menyatakan keluar dari lembaga itu pada 2000.

Edukasi
Keluar dari WWF, Veda lalu mendirikan Yayasan Bahtera Nusantara di Denpasar. Mereka menyosialisasikan penangkapan ikan hias dengan peralatan yang tidak merusak lingkungan. Tetapi pada 2003, Veda dipanggil kembali masuk WWF. Sejak masuk sampai sekarang, dia mulai menangani kawasan Wakatobi.
"Wakatobi mestinya tidak sebagai konservasi an sich, melainkan sebagai perikanan yang berkelanjutan. Konsepnya berbeda dengan konservasi yang berbasis spesies seperti komodo, badak, penyu, atau jalak bali. Sayangnya, konservasi itu masih dilihat sebagai larangan," ia menjelaskan.
Veda berpendapat eksploitasi sumber daya laut terjadi karena manusia tidak lagi membedakan antara kebutuhan hidup dan keserakahan. Manusia menguras kekayaan laut dengan segala cara. Karena itu, program konservasi harus menekankan edukasi sumber daya alam untuk keberlangsungan masa depan. [Pembaruan/Unggul Wirawan]

Last modified: 29/6/06