Melakukan perjalanan untuk bekerja seringkali menemukan berbagai tempat yang indah dan mengesankan. Seringkali tak cukup waktu untuk berhenti sejenak untuk benar-benar menikmatinya. Keindahan dan kesan tersebut terekam cepat dan seringkali muncul ke permukaan sesaat bak dejavu.
Dalam perjalanan kali ini kesempatan itu muncul kembali dan tak ingin aku melewatkannya. Jalur Denpasar-Bali Barat melalui Munduk sudah ratusan kali kulalui dan tak pernah sekalipun berhenti untuk ngopi atau sekedar meluruskan badan setelah sekian menit mengemudi. Kali ini aku datang dengan sengaja setelah mendengar sobat sekaligus partner berkarya yang keren, mas Jay Jagger, bilang mo ke desa Munduk ketemu sobatnya bli Kaweng. Sudah cukup untukku menjadikannya alasan untuk ke desa ini tidak hanya untuk bertemu sobat namun secara serius mau menikmati hidup. Menikmati keindahan desa di ketinggian yang banyak dikunjungi wisatawan Eropa karena keindahan pemandangan, kesegaran udara dan keramahan warga petani serta tentunya menghirup kopi Tamblingan yang telah lama dikenal sebagai kopi terbaik di Bali.
Pagi ini aku bangun dari kamar penginapan Don Biyu milik bli Kaweng disambut keindahan perbukitan Jatiluwih. Terimakasih Tuhan untuk keindahan dan waktu yang kau berikan padaku hingga bisa menikmatinya.
Oct 6, 2018
Oct 22, 2015
Colombo, Sri Lanka. Kota nan bersih dan beradab
Mengunjungi Colombo, ibukota Sri Lanka, merupakan kesempatan yang tak pernah kuimpikan. Hanya tahu kata ini dari Colombo Plan, satu inisiatif kerjasama negara-negara di Asia Selatan dan Tenggara yang diinisiasi tahun 1950 untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dalam melakukan pembangunan ekonomi dan sosial.
Tiba di kota Colombo tengah malam, setelah melalui jalan bebas hambatan yang kelihatannya baru dibangun, tak terlalu mengesankan. Namun ada beberapa pengamatan yang menimbulkan tanda tanya. Bandara yang cukup ramai, sepertinya orang belum tidur pada tengah malam. Bus, Tuk-tuk (Bajaj) yang terparkir rapi di tepian jalan, hmmm rapih amat ya mereka parkirnya. Dan halaman kasino yang ramai di seberang hotel. Menurut sopir taxi yang menjemput kami jalan bebas hambatan ini baru dibangun dua tahun lalu. Kualitas jalan beton ini sangat baik, rapih dan mulus. Sayang malam hari sehingga tak bisa lihat terlalu banyak.
Di hari ketiga barulah saya sempat berjalan menulusuri kota dengan Tuktuk (Bajaj). Kata luar biasa saya sampaikan pada si pengemudi. Beradab sekali. Berhenti sekian detik sebelum lampu merah menyala merupakan tindakan yang tak pernah saya dapatkan dari seorang pengemudi bajaj di Indonesia. Sebisa mungkin mencuri start atau melanggar traffic light adalah biasa, namun disini hampir semua pengemudi taat pada traffic light dan pengemudi tuktuk pun tertib. Ada dua tipe tuktuk yang berargometer ataupun yang tawar menawar. Jarak hotel saya dengan pusat perbelanjaan kurang lebih 200 - 250 rupee. Lebih kurang 2-3 km lah.
Dari tuktuk terlihat kota nan bersih dan rapih. Pemandangan pantai pun sangat bersih. Sayang tak banyak waktu untuk menikmati kota ini. Namun tak salah bila Colombo Plan bersekretariat di kota ini. Menurut saya kapasitas sumberdaya manusia cukup berhasil membangun kota ini menjadi bersih dan beradab. Walau tentu tetap saja ada orang-orang yang sedikit memaksa menawarkan batu akik dan wanita teman tidur di tepi-tepi pusat perbelanjaan. Wajar toh.. namanya juga orang usaha hahaha...
Tiba di kota Colombo tengah malam, setelah melalui jalan bebas hambatan yang kelihatannya baru dibangun, tak terlalu mengesankan. Namun ada beberapa pengamatan yang menimbulkan tanda tanya. Bandara yang cukup ramai, sepertinya orang belum tidur pada tengah malam. Bus, Tuk-tuk (Bajaj) yang terparkir rapi di tepian jalan, hmmm rapih amat ya mereka parkirnya. Dan halaman kasino yang ramai di seberang hotel. Menurut sopir taxi yang menjemput kami jalan bebas hambatan ini baru dibangun dua tahun lalu. Kualitas jalan beton ini sangat baik, rapih dan mulus. Sayang malam hari sehingga tak bisa lihat terlalu banyak.
Di hari ketiga barulah saya sempat berjalan menulusuri kota dengan Tuktuk (Bajaj). Kata luar biasa saya sampaikan pada si pengemudi. Beradab sekali. Berhenti sekian detik sebelum lampu merah menyala merupakan tindakan yang tak pernah saya dapatkan dari seorang pengemudi bajaj di Indonesia. Sebisa mungkin mencuri start atau melanggar traffic light adalah biasa, namun disini hampir semua pengemudi taat pada traffic light dan pengemudi tuktuk pun tertib. Ada dua tipe tuktuk yang berargometer ataupun yang tawar menawar. Jarak hotel saya dengan pusat perbelanjaan kurang lebih 200 - 250 rupee. Lebih kurang 2-3 km lah.
Dari tuktuk terlihat kota nan bersih dan rapih. Pemandangan pantai pun sangat bersih. Sayang tak banyak waktu untuk menikmati kota ini. Namun tak salah bila Colombo Plan bersekretariat di kota ini. Menurut saya kapasitas sumberdaya manusia cukup berhasil membangun kota ini menjadi bersih dan beradab. Walau tentu tetap saja ada orang-orang yang sedikit memaksa menawarkan batu akik dan wanita teman tidur di tepi-tepi pusat perbelanjaan. Wajar toh.. namanya juga orang usaha hahaha...
Label:
mancanegara,
perjalanan
Location:
Kolombo, Sri Lanka
Mar 25, 2014
Berlayar ke Barat
Mengarungi Sumatera adalah perjalanan tertunda. Tertunda lama.
Sejak perjalanan ke Lampung di jaman mahasiswa tidak ada lagi kesempatan tuk berjalan apalagi berlayar ke Barat. Hingga tiba undangan meramaikan Indonesia Maritime Festival di Anambas sebagai rangkaian Naval Exercise 2014.
Maka dengan segala ketidakpastian dan minimnya informasi kuputuskan untuk menuju ke Barat saat ini. Atau mungkin tak sempat lagi ada lain kali.
Dini hari pukul 03.09 bersama taxi Express meluncur meninggalkan Perumahan Indraprasta menuju Bandara SOETA. Dijadwalkan 05.25 GA286 akan menerbangkanku menuju Tanjung Pinang. Sumatra bagian Kepulauan Riau ini lompatan dari dataran Sumatera yang kumimpikan.
Dari udara tampak bopeng-bopeng galian bauksit andalan pulau Bintan. Tampak pula sebaran pembangunan di sana sini.
Mendarat di Bandara ... telah dinantikan oleh Ian Fis (maksudnya Peace alias Damai) penabuh drum yang kerja serabutan dari sopir hingga penjaga project pengembang bangunan. Orang Melayu Medan yang lama tinggal di Jakarta ini menjemputku dan mengantar ke agen penyebrangan ferry dari Tanjung Pinang ke Tarempa. Sepanjang jalan mengalir ceritanya mengenai dirinya, mengenai orang Medan, mengenai kota Tanjung Pinang, mengenai Kapolri Sutanto, mengenai desertir TNI-AL yang begitu membunuh waktu hingga sekejap saja rasanya tiba di kota tepi pelabuhan.
"Tiket esok hari sudah habis" weitz. Terkejut karena terlena hantaran cerita sepanjang jalan dan tak siap pad kenyataan bahwa begitu laris manisnya pelayaran menuju Anambas ini. Otak berputar cepat sambil mendengar lalu lalang paparan Ian yang meyakinkan bahwa pasti akan kudapat tiket ke Anambas. "Kita ke pelabuhan saja. Kita cari orang Syahbandar yang mungkin bisa membantu. Kan mereka yang kuasa memberangkatkan orang" ujar Ian. Saya percaya tidak percaya, namun tak punya pilihan lain.
Duduk ngopi di warung sebelah kantor Syahbandar dengan ketidakpastian. Secangkir kopi yg cukup nikmat namun kurang bisa kunikmati lebih dari sekedar pembunuh waktu mencari selah dimana dapat kuperoleh tiket esok hari.
Setelah sepiring nasi dengan telor dadar dan teh cairnya habis maka bertelponlah Ian dengan seseorang yang kemudian kukenal sebagai Putra. Good news. Pak Putra punya bookingan tiket 4 buah untuk esok hari dan belum juga ada konfirmasi dari orang yg memesannya hingga pagi ini walau sudah dibooking sejak Jumat lalu. Beruntunglah pak Putra memutuskan untuk membatalkan saja bookingan itu dan memberikannya satu tiket padaku. Sip. 400ribu kubayarkan dari 302 ribu harga tiket plus sekedarnya untuk terimakasihku pada bantuan pak Putra. Tiket sudah di tangan, hidupku sudah tenang. Tinggal menata rencana sehari semalam di kota Tanjung Pinang.
Hotel di muka pintu keluar pelabuhan Tanjung Pinang hanya beberapa langkah dari tempat nongkrong kami di sebelah kantor Syahbandar. Gunung Bintan Jaya namanya. 200rb semalam dan 100rb tuk short time. Hmm.. Short time untuk yg sekedaringin mandi dan baring sambil menunggu ferry berangkat ke Batam atau Singapura kali ya. Ya sudahlah kuambil saja tanpa pikir panjang lagi.
Listrik mati ternyata. Pantas saja kasir langsung mengingatkan bahwa hanya kipas angin yang hidup. AC tidak berfungsi. But okay, aku lebih suka angin mengalir daripada dingin yg bikin masuk angin. Apalagi udara cerah dan jendela terbuka lebar. Mantap sudah.
Koneksi Telkomselflash dari kamar 206 ini lancar jaya. HSDPA dijangkau dan listrik tetap ada dari genset hotel. Aman. Sudah cukup untuk bekerja sampai perut lapar.
Walau direkomendasikan sup ikan namun perut lapar dan utang kerjaan membuat pilihan makan di lantai dasar sebelah hotel menjadi prioritas siang ini. Ikan kuah dengan peyek kacang diguyur sayur nangka sambal hijau cukup nikmat. Dua piring nasi tandas dalam sekejap dan cukup energi untuk kerja jilid dua. Namun gak sehat lah kalau abis makan langsung kerja. Perlu mengalirkan darah dulu menghantar energi yg masuk ke seluruh tubuh. Maka kususuri trotoar kota yang cukup tenang ini. Membeli beberapa penganan untuk esok hari kukelilingi satu blok kota ini sampai bertemu satu tempat yang cukup cozy. Kedai Kopi Jalan Bintan.
Tempat duduk nyaman, ruang ber-AC lumayan untuk nongkrong di siang yg panas ini. Pesan kopi-O seharga 5500++ sudah cukup untuk mentest koneksi WIFInya yang lumayan. Recommended buat nongkrong sayang kopinya cuma Kopi-O, Kopi Susu tanpa tahu bahwa kopi tuh ada Arabica dan Robusta. Ada Mandailing, Aceh Gayo, Menoreh, Paniai dan masih banyak lagi.Komentar mas Panca di FB langsung "Sekalian feasibility study untuk Kopi Ranin di Tanjung Pinang mas... " "Yup, 100 tuk mas Panca" Kayanya memang perlu ada kedai kopi yang mengenalkan aneka rupa kopi nusantara di pintu masuk Indonesia sisi Barat ini. Masak gak ada yang mau apalagi mampu seh di kota yang kaya ini. Perlu dicari kolega yang mau dan mampu.
Komentar-komentar di FB lalu lalang di komputer dan hapeku. Salah satu yang bermanfaat adalah tawaran Cici untuk memanfaatkan keponakannya eksplor kota Tanjung Pinang. Lumayan.. daripada sesorean di kamar saat mati listrik. Yes. Mati listrik jilid dua. Mitra, ponakan Cici, menjemputku dengan trail Kawasakinya. Kami meluncur mencari seafood restoran untuk mencoba hasil laut kepulauan Riau. Masak dah di kepulauan gak dapat seafood segar sih?
Wow, semua seafood restoran fullbook. Ada yang acara keluarga ada juga yang sedang kampanye dialogis. Yang menarik kampanye di Tanjung Pinang berbahasa Tionghoa baik di saluaran tivi lokal maupun di restoran seafood sini. Untung masih ada meja diluar ruang restoran yang tersedia buat kami.
Pilihan jatuh pada sup kakap, sotong goreng dan sayuran. Porsinya ternyata tak sanggup kami habiskan berdua.
Maka 231ribu rupiah menyisakan dua bungkus sup dan sotong tuk bekal anak kost.
Habis sudah sehari semalam di Tanjung Pinang. Saatnya balik hotel, baring dan bersiap berlayar esok pagi pukul 07.00.
Sejak perjalanan ke Lampung di jaman mahasiswa tidak ada lagi kesempatan tuk berjalan apalagi berlayar ke Barat. Hingga tiba undangan meramaikan Indonesia Maritime Festival di Anambas sebagai rangkaian Naval Exercise 2014.
Maka dengan segala ketidakpastian dan minimnya informasi kuputuskan untuk menuju ke Barat saat ini. Atau mungkin tak sempat lagi ada lain kali.
Dini hari pukul 03.09 bersama taxi Express meluncur meninggalkan Perumahan Indraprasta menuju Bandara SOETA. Dijadwalkan 05.25 GA286 akan menerbangkanku menuju Tanjung Pinang. Sumatra bagian Kepulauan Riau ini lompatan dari dataran Sumatera yang kumimpikan.
Dari udara tampak bopeng-bopeng galian bauksit andalan pulau Bintan. Tampak pula sebaran pembangunan di sana sini.
Mendarat di Bandara ... telah dinantikan oleh Ian Fis (maksudnya Peace alias Damai) penabuh drum yang kerja serabutan dari sopir hingga penjaga project pengembang bangunan. Orang Melayu Medan yang lama tinggal di Jakarta ini menjemputku dan mengantar ke agen penyebrangan ferry dari Tanjung Pinang ke Tarempa. Sepanjang jalan mengalir ceritanya mengenai dirinya, mengenai orang Medan, mengenai kota Tanjung Pinang, mengenai Kapolri Sutanto, mengenai desertir TNI-AL yang begitu membunuh waktu hingga sekejap saja rasanya tiba di kota tepi pelabuhan.
"Tiket esok hari sudah habis" weitz. Terkejut karena terlena hantaran cerita sepanjang jalan dan tak siap pad kenyataan bahwa begitu laris manisnya pelayaran menuju Anambas ini. Otak berputar cepat sambil mendengar lalu lalang paparan Ian yang meyakinkan bahwa pasti akan kudapat tiket ke Anambas. "Kita ke pelabuhan saja. Kita cari orang Syahbandar yang mungkin bisa membantu. Kan mereka yang kuasa memberangkatkan orang" ujar Ian. Saya percaya tidak percaya, namun tak punya pilihan lain.
Duduk ngopi di warung sebelah kantor Syahbandar dengan ketidakpastian. Secangkir kopi yg cukup nikmat namun kurang bisa kunikmati lebih dari sekedar pembunuh waktu mencari selah dimana dapat kuperoleh tiket esok hari.
Setelah sepiring nasi dengan telor dadar dan teh cairnya habis maka bertelponlah Ian dengan seseorang yang kemudian kukenal sebagai Putra. Good news. Pak Putra punya bookingan tiket 4 buah untuk esok hari dan belum juga ada konfirmasi dari orang yg memesannya hingga pagi ini walau sudah dibooking sejak Jumat lalu. Beruntunglah pak Putra memutuskan untuk membatalkan saja bookingan itu dan memberikannya satu tiket padaku. Sip. 400ribu kubayarkan dari 302 ribu harga tiket plus sekedarnya untuk terimakasihku pada bantuan pak Putra. Tiket sudah di tangan, hidupku sudah tenang. Tinggal menata rencana sehari semalam di kota Tanjung Pinang.
Hotel di muka pintu keluar pelabuhan Tanjung Pinang hanya beberapa langkah dari tempat nongkrong kami di sebelah kantor Syahbandar. Gunung Bintan Jaya namanya. 200rb semalam dan 100rb tuk short time. Hmm.. Short time untuk yg sekedaringin mandi dan baring sambil menunggu ferry berangkat ke Batam atau Singapura kali ya. Ya sudahlah kuambil saja tanpa pikir panjang lagi.
Listrik mati ternyata. Pantas saja kasir langsung mengingatkan bahwa hanya kipas angin yang hidup. AC tidak berfungsi. But okay, aku lebih suka angin mengalir daripada dingin yg bikin masuk angin. Apalagi udara cerah dan jendela terbuka lebar. Mantap sudah.
Koneksi Telkomselflash dari kamar 206 ini lancar jaya. HSDPA dijangkau dan listrik tetap ada dari genset hotel. Aman. Sudah cukup untuk bekerja sampai perut lapar.
Walau direkomendasikan sup ikan namun perut lapar dan utang kerjaan membuat pilihan makan di lantai dasar sebelah hotel menjadi prioritas siang ini. Ikan kuah dengan peyek kacang diguyur sayur nangka sambal hijau cukup nikmat. Dua piring nasi tandas dalam sekejap dan cukup energi untuk kerja jilid dua. Namun gak sehat lah kalau abis makan langsung kerja. Perlu mengalirkan darah dulu menghantar energi yg masuk ke seluruh tubuh. Maka kususuri trotoar kota yang cukup tenang ini. Membeli beberapa penganan untuk esok hari kukelilingi satu blok kota ini sampai bertemu satu tempat yang cukup cozy. Kedai Kopi Jalan Bintan.
Tempat duduk nyaman, ruang ber-AC lumayan untuk nongkrong di siang yg panas ini. Pesan kopi-O seharga 5500++ sudah cukup untuk mentest koneksi WIFInya yang lumayan. Recommended buat nongkrong sayang kopinya cuma Kopi-O, Kopi Susu tanpa tahu bahwa kopi tuh ada Arabica dan Robusta. Ada Mandailing, Aceh Gayo, Menoreh, Paniai dan masih banyak lagi.Komentar mas Panca di FB langsung "Sekalian feasibility study untuk Kopi Ranin di Tanjung Pinang mas... " "Yup, 100 tuk mas Panca" Kayanya memang perlu ada kedai kopi yang mengenalkan aneka rupa kopi nusantara di pintu masuk Indonesia sisi Barat ini. Masak gak ada yang mau apalagi mampu seh di kota yang kaya ini. Perlu dicari kolega yang mau dan mampu.
Komentar-komentar di FB lalu lalang di komputer dan hapeku. Salah satu yang bermanfaat adalah tawaran Cici untuk memanfaatkan keponakannya eksplor kota Tanjung Pinang. Lumayan.. daripada sesorean di kamar saat mati listrik. Yes. Mati listrik jilid dua. Mitra, ponakan Cici, menjemputku dengan trail Kawasakinya. Kami meluncur mencari seafood restoran untuk mencoba hasil laut kepulauan Riau. Masak dah di kepulauan gak dapat seafood segar sih?
Wow, semua seafood restoran fullbook. Ada yang acara keluarga ada juga yang sedang kampanye dialogis. Yang menarik kampanye di Tanjung Pinang berbahasa Tionghoa baik di saluaran tivi lokal maupun di restoran seafood sini. Untung masih ada meja diluar ruang restoran yang tersedia buat kami.
Pilihan jatuh pada sup kakap, sotong goreng dan sayuran. Porsinya ternyata tak sanggup kami habiskan berdua.
Maka 231ribu rupiah menyisakan dua bungkus sup dan sotong tuk bekal anak kost.
Habis sudah sehari semalam di Tanjung Pinang. Saatnya balik hotel, baring dan bersiap berlayar esok pagi pukul 07.00.
Label:
nusantara,
perjalanan
Mar 18, 2014
Lulusan IPB Kok Jadi Wartawan
Ketika Melchior Treub pada tahun 1903 mendirikan Sekolah Pertanian di bawah naungan Kebun Raya Bogor, tugas sekolah itu adalah mendidik tiga jenis tenaga kerja dalam bidang pertanian, yaitu penyuluh pertanian, pengawas hutan, dan Sinder perkebunan. Sekolah yang didirikan Melchior Treub ini kemudian berkembang menjadi Middelbare Landbouw School yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Pertanian Menengah Atas.
Sangat jelas tugas kerja bagi para lulusan sekolah ini. Apabila ia bekerja dalam bidang. pertanian rakyat, maka ia dididik menjadi penyuluh bagi para petani. Dengan keahlian itu ia diharapkan dapat mendidik para petani agar dapat menerapkan penemuan-penemuan baru dalam berbagai teknologi pertanian. Cara mendidiknya itu adalah melalui penyuluhan yang adalah suatu usaha mengimbau. Tidak demikian halnya apabila ia akan berkerja dalam usaha perkebunan yang adalah usaha perusahaan pertanian yang dimodali oleh swasta. Ia dididik menjadi sinder yang asalnya adalah dari kata Belanda opziener yang artinya kira-kira ialah pengawas, seperti halnya juga dengan para lulusan yang akan bekerja dalam bidang kehutanan dilatih menjadi bosopzichter atau pengawas hutan.
Usaha penyuluhan pertanian sendiri diresmikan kelembagaannya oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1908 sejak lima orang penasihat pertanian dan beberapa pembantu penasihat pertanian diangkat sebagai pegawai Departemen Pertanian yang diperbantukan kepada Pangreh Praja setempat untuk memberi nasihat tentang pertanian dan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan pertanian kepada para petani.
Para penasihat pertanian itu umumnya adalah orang Belanda sedangkan para pembantu penasihat pertanian itu berasal dari lulusan sekolah pertanian tadi. Merekalah perintis kegiatan pendidikan pertanian di Indonesia, yang kemudian akan berkembang menjadi kegiatan penyuluhan pertanian yang sifatnya tidak berasaskan perintah, melainkan berdasarkan usaha mengimbau berdasarkan tatap muka antara penyuluh dan petani. Pertemuan tatap muka adalah sarana utama penyuluhan karena ketika itu para petani kebanyakan tidak berpendidikan dan sarana komunikasi lainnya belum berkembang. Itulah pula sebabnya mengapa di kelas terakhir Sekolah Pertanian Menengah Atas setiap siswa diwajibkan mengikuti pelajaran pendidikan pertanian atau penyuluhan pertanian.
Sewaktu saya menjadi siswa kelas tiga Sekolah Pertanian Menengah Atas di Bogor pada pergantian dasawarsa empatpuluhan ke dasawarsa limapuluhan, beruntung sekali saya dapat mengikuti pelajaran pedagogi pertanian dari Soetan Sanif, seorang penyuluh pertanian kawakan kelahiran Penyabungan di Mandailing yang kecantol seorang putri Sunda dari Purwakarta, sehingga ia pun banyak berpengalaman mengadakankan penyuluhan terhadap para petani di dataran rendah Jawa Barat bagian Utara. Tugas mengajar pedagogi pertanian diberikan kepadanya karena ia adalah seorang penyuluh pertanian dengan pengalaman lapangan yang sangat luas.
Selain itu ia pun sangat terkenal karena pandainya membuat tulisian-tulisan bersifat penyuluhan pertanian yang banyak diterbitkan di majalah Pandji Poestaka keluaran Balai Poestaka. Agaknya pengalaman masa remajanya mengikuti bual kedai kopi di Mandailing dicampur dengan pengalaman lapangnya dengan berbagai falsafah hidup petani di seluruh wilayah Indonesia, menimbulkan kemampuan di dalam dirinya untuk dapat menulis dengan gaya yang menarik bagi orang yang ingin tahu seluk beluk pertanian. Sekaligus pula ia telah mengembangkan gaya penyuluhan tatap muka menjadi gaya pendidikan melalui media cetak. Ada dua angkatan siswa SPMA Bogor yang beruntung mengikuti pelajaran padaqogi pertanian dari Soetan Sanif. Ke dalam angkatan pertama termasuk Saudara Slamet Soeseno sedangkan saya sendiri menyusul pada angkatan berikutnya.
Petani tidak bodoh
Kalau Soetan Sanif sebagai pembantu penasihat pertanian adalah lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas Bogor, maka para penasihat pertanian biasanya adalah lulusan Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen. Tenaga tertua berkebangsaan Indonesia yang lulus dari Wageningen itu saya kira adalah Prof Iso Reksohadiprodjo. Pada waktu beliau lulus dari Wageningen program pendidikan masih berlangsung selama tiga tahun sehingga beliau ketika itu belum bergelar Landbouwkundig ingenieur.
Kalau Soetan Sanif sebagai pembantu penasihat pertanian adalah lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas Bogor, maka para penasihat pertanian biasanya adalah lulusan Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen. Tenaga tertua berkebangsaan Indonesia yang lulus dari Wageningen itu saya kira adalah Prof Iso Reksohadiprodjo. Pada waktu beliau lulus dari Wageningen program pendidikan masih berlangsung selama tiga tahun sehingga beliau ketika itu belum bergelar Landbouwkundig ingenieur.
Tokoh berikutnya yang sudah bergelar insinyur ialah Prof Ir Teko Soemodiwirjo, sedangkan seorang tokoh lain yang lebih muda, yang pernah menjadi Se kretaris Jenderal Departemen Pertanian, sekarang masih giat berkecimpung dalam dunia pendidikan tinggi sebagai seorang pembantu rektor bidang akademik di suatu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta. Beliau adalah Ir Kaslan A. Tohir yang tulisan-tulisannya juga banyak digemari pembacanya.
Kalau kita pernah mengikuti pelajaran atau kuliah dari ketiga tokoh ini di masa muda kita, maka banyak sekali pelajaran yang diberikan itu kita anggap sepele ketika itu, akan tetapi ternyata sangat dalam artinya setelah kita banyak makan garam kehidupan dan sampai pada usia kearifan. Satu hal yang selalu ditekankan oleh tokoh-tokoh ini dalam pelarjarannya ialah bahwa petani itu bukan orang bodoh. Kalau ia melakukan sesuatu dalam usaha taninya yang tampaknya primitif maka hal itu bukanlah karena kebodohannya, melainkan adalah usahanya yang terbaik dalam keadaan terkendala oleh faktof-faktor lain yang belum kita pahami.
Masuk ke pasar
Pelajaran lain yang sekarang selalu saya terapkan apabila saya memasuki suatu daerah baru ialah untuk menyempatkan diri masuk ke pasar setempat. Dengan menyimak hasil bumi apa yang dijual di situ, kita dapat mengetahui sumber usaha utama penduduk di sekitar pasar itu. Dengan memperhatikan kualitas barang-barang yang ditawarkan di kedai-kedai di pasar itu kita dapat menduga daya beli penduduk dan oleh karena itu pula tingkat kemakmurannya. Demikianlah dengan memasuki pasar Muara Sipongi atau Panyabungan pada suatu hari Kamis, kita ketahui bahwa hasil utama perkebunan rakyat di sekitarnya ialah kulit manis den kopi, sedangkan dengan menyimak kualitas barang elektronik dan pakaian jadi yang tersedia di kios dan membandingkannya dengan apa yang misalnya dapat dilihat di pasar Sarolangun-Bangko, kita dapat menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat pedesaan di Jambi lebih besar dibandingkan dengan daya beli masyarakat pedesaan di Kecamatan Muara Sipo ngi dan Panyabungan.
Pelajaran lain yang sekarang selalu saya terapkan apabila saya memasuki suatu daerah baru ialah untuk menyempatkan diri masuk ke pasar setempat. Dengan menyimak hasil bumi apa yang dijual di situ, kita dapat mengetahui sumber usaha utama penduduk di sekitar pasar itu. Dengan memperhatikan kualitas barang-barang yang ditawarkan di kedai-kedai di pasar itu kita dapat menduga daya beli penduduk dan oleh karena itu pula tingkat kemakmurannya. Demikianlah dengan memasuki pasar Muara Sipongi atau Panyabungan pada suatu hari Kamis, kita ketahui bahwa hasil utama perkebunan rakyat di sekitarnya ialah kulit manis den kopi, sedangkan dengan menyimak kualitas barang elektronik dan pakaian jadi yang tersedia di kios dan membandingkannya dengan apa yang misalnya dapat dilihat di pasar Sarolangun-Bangko, kita dapat menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat pedesaan di Jambi lebih besar dibandingkan dengan daya beli masyarakat pedesaan di Kecamatan Muara Sipo ngi dan Panyabungan.
Sejalan dengan kemampuan mengukur daya beli masyarakat di daerah pedesaan ini, di Institut Pertanian Bogor setiap mahasiswa baru diwajibkan mengambil kurikulum yang sama di tingkat persiapan bersama. Kurikulum itu tidak hanya mencakup mata kuliah dasar fisika, kimia, biologi, dan matematika di samping mata kuliah wajib bahasa Indonesia, bahasa Inggris, kewiraan dan kewargaan negara, akan tetapi juga mata kuliah dasar ilmu-ilmu sosial berupa sosiologi pedesaan dan ekonomi umum. Atas dasar mata kuliah dasar seperti ini seorang mahasiswa yang besar-benar tekun belajar akan mampu bukan saja memahami seluk-beluk ilmu-ilmu pertanian secara teknis, melainkan juga memahami permasalahan sosial yang dapat diamatinya di lingkungan sekitarnya.
Di tingkat dua dan tiga ia mulai mempelajari suatu bidang khusus dalam kawasan bidang ilmu pertanian, dengan mempelajari ilmu-ilmu tertentu, didampingi praktikum, praktek, dan telaah kepustakaan yang diakhiri dengan penulisan suatu laporan mengenai hasil telaahannya tersebut.
Di tingkat terakhir ia mulai mencari suatu masalah dan mencoba menjawabnya dengan mengadakan percobaan atau survei yang diakhiri dengan penyusunan suatu karya tulis mengenai hasil penelitiannya itu. Bagi sebagian mahasiswa tugas menulis memang merupakan hal yang sangat ditakuti. Akan tetapi bagi sebagian mahasiswa lain yang senang akan pekerjaan tulis-menulis, tidak jarang hasil karya tulisannya itu sangat menarik untuk dibaca karena disajikan dengan cara yang sangat menarik.
Mahasiswa seperti ini sebenarnya memiliki cukup persyaratan untuk menjadi penyuluh pertanian modern yang sasaran penyuluhannya tidak lagi buta huruf, melainkan sudah mengecap pendidikan yang memadai. Penyuluhan bagi petani seperti ini yang sering pula sudah biasa berdasi tidak perlu ditangani selalu dengan tatap muka melainkan depat dilakukan melalui media cetak. Sebagian di antara mereka setelah lulus dari IPB menemukan relung kerjanya di barbagai surat kabar, majalah dan perusahaan penerbitan. Bahkan seorang lulusan menjadi editor utama suatu majalah mengenai komputer dan elektronika. Suatu petunjuk bahwa lulusan Institut Pertanian Bogor dan perguruan tinggi pertanian yang sejenis kalau perlu dapat menjadi penyuluh melalui media tulisan yang nama sederhananya adalah wertawan.
Bukan salah tempat
Beberapa waktu yang lalu ada seorang wartawan menanyakan kepada saya mengapa banyak lulusan Institut Pertanian Bogor bekerja di tempat yang salah. Ketika saya tanyakan apa yang dimaksudkannya dengan tempat yang salah itu, ternyata yang dimaksudkannya adalah pekerjaan menjadi wartawan atau editor buku ilmiah. Saya katakan bahwa hal itu samasekali bukan salah tempat, karena sebagian lulusan Institut Pertanian Bogor harus ada yang terjun ke dunia penyuluhan pertanian pada khususnya, dan dunia penyuluhan pembangunan pada umumnya. Harus kita sadari sekarang bahwa media penyuluhan yang terbaik bagi manusia Indonesia masa kini dan masa depan seyogyanya adalah koran dan majalah mingguan. Kalau hal ini tidak kita setujui percuma saja kita berusaha agar koran masuk desa.
Beberapa waktu yang lalu ada seorang wartawan menanyakan kepada saya mengapa banyak lulusan Institut Pertanian Bogor bekerja di tempat yang salah. Ketika saya tanyakan apa yang dimaksudkannya dengan tempat yang salah itu, ternyata yang dimaksudkannya adalah pekerjaan menjadi wartawan atau editor buku ilmiah. Saya katakan bahwa hal itu samasekali bukan salah tempat, karena sebagian lulusan Institut Pertanian Bogor harus ada yang terjun ke dunia penyuluhan pertanian pada khususnya, dan dunia penyuluhan pembangunan pada umumnya. Harus kita sadari sekarang bahwa media penyuluhan yang terbaik bagi manusia Indonesia masa kini dan masa depan seyogyanya adalah koran dan majalah mingguan. Kalau hal ini tidak kita setujui percuma saja kita berusaha agar koran masuk desa.
Apa persyaratan agar seseorang dapat memenuhi perayaratan sebagai penyuluh pembangunan dalam era pembangunan ini? Apakah persyaratan pertamanya harus lulus dari pendidikan kewartawanan, ataukah yang pertama harus dikuasainya adalah sektor yang akan dijadikannya obyek penyuluhan, dan sesudah itu baru kemampuan menulis dengan jelas dan menarik. Masalahnya mirip dengan pertanyaan apa yang seharusnya diketahui terlebih dahulu oleh seorang guru matematika di SMA. Pengetahuan dasar tentang matematika ataukah cukup dengan berusaha mengetahui cara mengejar saja?
Menurut keyakinan saya, sebagian lulusan Institut Pertanian Bogor dan perguruan tinggi pertanian lainnya memenuhi persyaratan untuk menjadi wartawan penyuluh pembangunan. Bidang ilmu tertentu sudah dikuasai olehnya. Membaca situasi permasalahan telah dilatihkan kepadanya melalui latihan mempelajari kepustakaan, praktek lapang, praktikum, latihan berwawancara, dan pelaksanaan suatu penelitian. Sedangkan latihan mengemukakan pendapat telah diperolehnya melalui seminar-seminar yang harus dihadirinya sebelum ia menulis dan sewaktu ia mempertahankan karya tulis hasil penelitiannya. Hasil akhir karya tulisnya dengan demikian baginya adalah latihan menulis agar tulisannya depat dipahami orang lain.
Penghargaan sangat membesarkan hati yang pernah saya peroleh mengenai anak-anak saya yang akhirnya menjadi wartawan saya terima sewaktu secara kebetulan saya berjumpa dengan direktur suatu usaha penerbitan buku di salah satu ruang tunggu pesawat di lapangan udara Changi. Saya sedang menyambung perjalanan dari Manila ke Jakarta sedangkean tokoh penerbit itu baru saja kembali dari Kuala Lumpur menghadiri suatu pekan buku. Tiba-tiba saja ia nyeletuk; ”Wah, lulusan-lulusanmu yang bekerja pada divisi penerbitan benar-benar siap pakai”.
Kalau tulisan ini diberi judul berupa pertanyaan, sekarang wajar kiranya menutup tulisan ini dengan pernyataan: “Pantesan ada lulusan IPB yang perlu jadi wartawan!” (Andi Hakim Nasution, Rektor IPB)
Sumber: Kompas, 19 Mei 1986
Jan 26, 2013
Daun Gatal
Saat trip ke Sausapor ada satu pengalaman baru yg menarik. Mencoba khasiat daun gatal! Daun ini emang gatal rasanya. Namun memang ada khasiatnya. Badan yg lelah, digosok daun gatal konon akan serasa dipijat setelah diusapkan. Karena penasaran maka Sopater, boat driver WWF Abun project, kuminta gosokkan daun gatal ini ke punggungku.
Lembaran daun ini di salah satu sisinya berduri halus. Duri2 halus inilah yg disentuhkan dan dogosokkan ke permukaan badan. Sentuhannya tentu bikin geli dan berasa diparut halus. Dan dalam waktu lebih kurang 2 menit mulai berasa hangat memanas dan berasa diurut. Wow, nyaman rasanya. Mau coba?
Lembaran daun ini di salah satu sisinya berduri halus. Duri2 halus inilah yg disentuhkan dan dogosokkan ke permukaan badan. Sentuhannya tentu bikin geli dan berasa diparut halus. Dan dalam waktu lebih kurang 2 menit mulai berasa hangat memanas dan berasa diurut. Wow, nyaman rasanya. Mau coba?
Sausapor
Sausapor ini nama ibukota kabupaten Tambrauw. Satu kabupaten di Propinsi Papua Barat. Tempat jadi satu destinasi kunjungan saya dan Jacob, rekan dari WWF Denmark, dari serangkaian destinasi yang akan kami kunjungi dalam rangka mereview Program Pendidikan Lingkungan. Program yang didukung oleh Pemerintah Denmark melalui WWF Denmark ini sudah berjalan dua tahun dan setiap tahunnya kami review untuk melakukan adaptasi atas situasi terkini.
Perjalanan dari Sorong ke Sausapor menggunakan dua kendaraan double cabin Ford Ranger sewaan. Kendaraan double cabin model Ranger, Hilux maupun Triton ini begitu populer di Sorong sebagai sarana antar kota mengingat tidak tersedianya kendaraan antar kota yang reguler. Dan medan jalan antar kota yang seringkali harus off road karena belum stabil pengerasan dan pengaspalannya membutuhkan double gardan sebagai standar kendaraan antar kota.
Perjalanan ke Sausapor biasanya ditempuh dalam 4 jam namun hari ini Ronny, pimpinan project WWF di Abun, memutuskan untuk jalan santai saja. Sehingga kami perkirakan akan tiba di Sausapor pukul satu siang.
Saya dan Jacob terpisah, dia menggunakan Ford Ranger hitam melaju di depan kami bersama Hadi Ferdinandus dan seorang staf BBKSDA Papua Barat. Saya menggunakan Ford Ranger putih bersama Ronny dan om Wali. Kedua mobil ini dikemudikan oleh sopir sewaan yang tahu benar medan perjalanan ini. Selain itu ada satu kenek di mobil hitam yang entah mengapa tidak mau duduk di dalam dan memilih untuk duduk di bak belakang alias 'dingdong' istilah orang yg duduk atau berdiri di bak belakang. Lucu juga istilahnya.. :)
Setibanya di Sausapor kami makan siang dulu sebentar di tepi sungai sebelum masuk kota. Setelah itu kami bongkar muatan sejenak di rumah sewa yang akan menjadi kantor lapang tim Abun dan disambung ke sekolah YPK Imanuel di Werur. Di SD ini kami menyerahkan sumbangan buku-buku bacaan dan pelajaran buat siswa dan sumbangan makanan tambahan untuk balita. Pada penutup acara guru-guru menyampaikan bahwa yang mereka masih sangat butuhkan adalah buku-buku bacaan bagi siswa. Hal ini mengingat minat yang tinggi siswa untuk membaca.
Kami tidak bisa berlama-lama di Werur mengingat tinggi paras air sungai yang harus diseberangi untuk kembali ke kota Sausapor sudah meninggi karena pasang laut. Selamat tinggal para siswa dan guru SD YPK Imanuel di Werur. Lain waktu semoga kami bisa kembali lagi membawakan lebih banyak buku bacaan untuk kalian semua.
Perjalanan dari Sorong ke Sausapor menggunakan dua kendaraan double cabin Ford Ranger sewaan. Kendaraan double cabin model Ranger, Hilux maupun Triton ini begitu populer di Sorong sebagai sarana antar kota mengingat tidak tersedianya kendaraan antar kota yang reguler. Dan medan jalan antar kota yang seringkali harus off road karena belum stabil pengerasan dan pengaspalannya membutuhkan double gardan sebagai standar kendaraan antar kota.
Perjalanan ke Sausapor biasanya ditempuh dalam 4 jam namun hari ini Ronny, pimpinan project WWF di Abun, memutuskan untuk jalan santai saja. Sehingga kami perkirakan akan tiba di Sausapor pukul satu siang.
Saya dan Jacob terpisah, dia menggunakan Ford Ranger hitam melaju di depan kami bersama Hadi Ferdinandus dan seorang staf BBKSDA Papua Barat. Saya menggunakan Ford Ranger putih bersama Ronny dan om Wali. Kedua mobil ini dikemudikan oleh sopir sewaan yang tahu benar medan perjalanan ini. Selain itu ada satu kenek di mobil hitam yang entah mengapa tidak mau duduk di dalam dan memilih untuk duduk di bak belakang alias 'dingdong' istilah orang yg duduk atau berdiri di bak belakang. Lucu juga istilahnya.. :)
Setibanya di Sausapor kami makan siang dulu sebentar di tepi sungai sebelum masuk kota. Setelah itu kami bongkar muatan sejenak di rumah sewa yang akan menjadi kantor lapang tim Abun dan disambung ke sekolah YPK Imanuel di Werur. Di SD ini kami menyerahkan sumbangan buku-buku bacaan dan pelajaran buat siswa dan sumbangan makanan tambahan untuk balita. Pada penutup acara guru-guru menyampaikan bahwa yang mereka masih sangat butuhkan adalah buku-buku bacaan bagi siswa. Hal ini mengingat minat yang tinggi siswa untuk membaca.
Kami tidak bisa berlama-lama di Werur mengingat tinggi paras air sungai yang harus diseberangi untuk kembali ke kota Sausapor sudah meninggi karena pasang laut. Selamat tinggal para siswa dan guru SD YPK Imanuel di Werur. Lain waktu semoga kami bisa kembali lagi membawakan lebih banyak buku bacaan untuk kalian semua.
Label:
nusantara,
perjalanan
Location:
Sausapor,Papua Barat, Indonesia
Dec 2, 2012
Oct 24, 2012
Trans-Papua Barat merusak habitat penyu - Antaranews.com
Trans-Papua Barat merusak habitat penyu - Antaranews.com
Mataram (ANTARA News) - Peneliti Senior dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri menilai pembangunan jalan trans-Papua Barat meliwati pesisir pantai yang merupakan habitat peneluran penyu belimbing melanggar aturan batas sempadan pantai.
"Pembangunan infrastruktur baik rumah maupun hotel termasuk jalan harus memperhatikan batas sempadan pantai yang ditaur dalam Undang-undang Pesisir," kata Rokhmin seusai menyampaikan pemaparan pada Konfrensi Nasional (Konas) VIII, di Mataram, Rabu.
Menanggapi pembangunan jalan trans-Papua Barat meliwati pesisir pantai yang merupakan habitat peneluran penyu belimbing, Rokhmin yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, mengatakan, seharusnya jalan tersebut dibangun di belakang bibir pantai. Ini salah satu upaya untuk melindungi tempat bertelur penyu.
"Kalau memang benar jalan tersebut dibangun di pesisir pantai mungkin karena tidak memahami aturan yang ada atau karena mengejar kepentingan jangka pendek," ujarnya.
Dia mengatakan, pembangunan jalan harus jauh dari lokasi peneluran penyu, karena penyu sangat sensitif, bukan hanya secara fisik, tetapi dengan adanya bunyi saja penyu akan terganggu dan tidak akan mau ke habitat peneluran tersebut.
Menurut Rokhmin, mungkin kepala daerah setempat tidak mengetahui manfaat dan nilai penyu bahwa satwa itu merupakan salah satu rantai makanan kelautan yang cukup penting. Kalau penyu musnah, bisa jadi biota-biota dan organisme laut lainnya akan musnah juga.
"Memang dampaknya tidak bisa langsung dilihat, tetapi jangka panjang, sementara kepala daerah menginginkan untuk jangka pendek," kata Rokhmin yang juga pakar kelautan.
Masalah ini, menurut dia, juga terkait dengan program "ekonomi biru". Dalam pembangunan infrastruktur dan upaya meningkatkan pertumbuahan ekonomi jangan sampai merusak lingkungan dan mengeluarkan emisi gas rumah kaca.
Pembangunan trans-Papua Barat akan mengancam habitat penyu belimbing sebab pesisir pantai itu merupakan tempat peneluran penyu dengan jumlah sarang terbanyak. Dengan demikian, keberadaan jalan itu dikhawatirkan membuat habitat tempat peneluran akan berkurang.
Sejak 2007, lanjut dia, Pemerintah membangun jalan trans-Papua Barat sepanjang 3 kilometer dari garis pantai sepanjang 20 kilometer. Namun, akibat pembangunan jalan tersebut, kini habitat atau sarang peneluran penyu belimbing mengalami penurunan.
(ANTARA)
Mataram (ANTARA News) - Peneliti Senior dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri menilai pembangunan jalan trans-Papua Barat meliwati pesisir pantai yang merupakan habitat peneluran penyu belimbing melanggar aturan batas sempadan pantai.
"Pembangunan infrastruktur baik rumah maupun hotel termasuk jalan harus memperhatikan batas sempadan pantai yang ditaur dalam Undang-undang Pesisir," kata Rokhmin seusai menyampaikan pemaparan pada Konfrensi Nasional (Konas) VIII, di Mataram, Rabu.
Menanggapi pembangunan jalan trans-Papua Barat meliwati pesisir pantai yang merupakan habitat peneluran penyu belimbing, Rokhmin yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, mengatakan, seharusnya jalan tersebut dibangun di belakang bibir pantai. Ini salah satu upaya untuk melindungi tempat bertelur penyu.
"Kalau memang benar jalan tersebut dibangun di pesisir pantai mungkin karena tidak memahami aturan yang ada atau karena mengejar kepentingan jangka pendek," ujarnya.
Dia mengatakan, pembangunan jalan harus jauh dari lokasi peneluran penyu, karena penyu sangat sensitif, bukan hanya secara fisik, tetapi dengan adanya bunyi saja penyu akan terganggu dan tidak akan mau ke habitat peneluran tersebut.
Menurut Rokhmin, mungkin kepala daerah setempat tidak mengetahui manfaat dan nilai penyu bahwa satwa itu merupakan salah satu rantai makanan kelautan yang cukup penting. Kalau penyu musnah, bisa jadi biota-biota dan organisme laut lainnya akan musnah juga.
"Memang dampaknya tidak bisa langsung dilihat, tetapi jangka panjang, sementara kepala daerah menginginkan untuk jangka pendek," kata Rokhmin yang juga pakar kelautan.
Masalah ini, menurut dia, juga terkait dengan program "ekonomi biru". Dalam pembangunan infrastruktur dan upaya meningkatkan pertumbuahan ekonomi jangan sampai merusak lingkungan dan mengeluarkan emisi gas rumah kaca.
Pembangunan trans-Papua Barat akan mengancam habitat penyu belimbing sebab pesisir pantai itu merupakan tempat peneluran penyu dengan jumlah sarang terbanyak. Dengan demikian, keberadaan jalan itu dikhawatirkan membuat habitat tempat peneluran akan berkurang.
Sejak 2007, lanjut dia, Pemerintah membangun jalan trans-Papua Barat sepanjang 3 kilometer dari garis pantai sepanjang 20 kilometer. Namun, akibat pembangunan jalan tersebut, kini habitat atau sarang peneluran penyu belimbing mengalami penurunan.
(ANTARA)
Editor: Ella Syafputri
Feb 2, 2011
Kembali ke Berau
Setelah hampir 12 tahun, akhirnya malam ini kukunjungi lagi kota ini. Bandara Kalimarau sudah lebih panjang landasan pacunya. Boeing 737-300 Sriwijaya Air mendarat santai di landasan pacu yang masih basah dari hujan yang sepertinya baru saja berlalu. Tidak perlu lagi injakan kaki ke geladak pesawat yang kutumpangi karena emosi jiwa, ingin ikut membantu pilot Deraya Air Service menginjak remnya, seperti yang biasa kulakukan ketika berulang2 ke Berau diantara tahun 1998 hingga 1999.
Hotel Sederhana dengan rumah makan padangnya masih ada. Warung tenda pinggir jalan juga kian marak. Yulis, pengemudi mobil kantor di Berau, juga mengkonfirmasi bahwa masih ada diskotik di hotel Berau Plaza yang selalu bikin berisik tamu yang menginap. Namun kota ini kian terang benderang pastinya. Jauh lebih banyak cahaya lampu listrik dibandingkan pada masa lalu dimana lampu trafficlight kota harus padam karena bila menyala maka listrik kota akan padam sekalian.
Menyenangkan melihat kota ini di malam hari. Semoga esok pagi tampak lebih banyak kemajuannya.
Nov 19, 2009
Perjalanan ke Biak
Minggu ini aku harus pergi ke Biak untuk memenuhi undangan panitia Pelatihan Pengenalan Ekosistem Terumbu Karang dan Biota Laut serta Pengelolaannya. Panitia dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Papua. Pelatihan dilakukan di hotel Intsia dari tanggal 16 - 21 November 2009, tapi jatahku dari tanggal 17 - 19 saja. Tanggal 20 aku harus sudah cabut balik ke Bali. Iya dong kan tanggal 20 ini my Bubby, Rakryan, ultah ke 2 nya. Harus pulang dong...
Kesempatan berkunjung ke Biak dan berdiskusi dengan para penggiat dan pemanfaat pesisir membuatku serasa kembali di tahun 2003, saat memulai program di Wakatobi. Cerita tentang maraknya bom ikan di pesisir Biak sampai saat ini, membuatku gelisah. Apa iya ya masih banyak orang yang tidak peduli hingga tidak bisa menghentikan semua kegiatan yang merusak ini. Atau memang kebanyakan orang sudah kian pesimis atau malah sudah apatis?
Bicara soal apatis ini salah satunya terlihat saat dengar cerita mengenai bagaimana dulu maraknya Biak sebagai transit airport ketika masih ada penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles. Wow.. keren kan? Aku juga baru ngeh setelah berkunjung sendiri ke pulau ini.
Saking maraknya lalu lintas penumpang via Biak ini maka pemerintah Papua (saat itu masih Irian Jaya) membangun satu hotel berbintang yang menjadi icon pariwisata Biak, hotel Marau.

Hotel yang dibangun oleh PT Waskita dan kalau gak salah dikelola oleh Aerowisata ini adalah hotel termegah yang ada di Indonesia paling Timur ini. Lihat aja kegagahan dan keindahannya di foto karya PT Waskita ini.
Namun foto ini adalah foto yang diambil sesudah selesai dibangun pada tahun 1991. Foto tersebut tinggalah kenangan.
Pada saat aku berkesempatan ke Biak dan mendengar adanya hotel Marau ini, sudah berbeda keadaannya. Foto dibawah ini adalah Hotel Marau pada tanggal 19 November 2009.


Kelihatan gak bedanya? Ha...? Emang masih perlu ditanya? Memang kelihatan jauh sekali kan. Konon investasi yang telah dikeluarkan saat pembangunannya pada tahun 1991 telah menghabiskan biaya Rp 1,7 trilyun. Kalau dikonversi dengan nilai uang sekarang berapa ya? Lebih dari Rp 6 trilyun tuh.
Bayangkan investasi yang sebesar itu kemudian menjadi tinggal puing yang tersisa. Sebagai pendatang yang melihat sekejap dan mencoba mencari tahu dengan segala keterbatasan sumber informan jadi penasaran. Apa ya yang sebenarnya terjadi atas semua ini? Kuingin mencari tahu lebih jauh, seperti halnya mencari jawaban atas pertanyaanku di awal tulisan ini.
Kesempatan berkunjung ke Biak dan berdiskusi dengan para penggiat dan pemanfaat pesisir membuatku serasa kembali di tahun 2003, saat memulai program di Wakatobi. Cerita tentang maraknya bom ikan di pesisir Biak sampai saat ini, membuatku gelisah. Apa iya ya masih banyak orang yang tidak peduli hingga tidak bisa menghentikan semua kegiatan yang merusak ini. Atau memang kebanyakan orang sudah kian pesimis atau malah sudah apatis?
Bicara soal apatis ini salah satunya terlihat saat dengar cerita mengenai bagaimana dulu maraknya Biak sebagai transit airport ketika masih ada penerbangan Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles. Wow.. keren kan? Aku juga baru ngeh setelah berkunjung sendiri ke pulau ini.
Saking maraknya lalu lintas penumpang via Biak ini maka pemerintah Papua (saat itu masih Irian Jaya) membangun satu hotel berbintang yang menjadi icon pariwisata Biak, hotel Marau.

Hotel yang dibangun oleh PT Waskita dan kalau gak salah dikelola oleh Aerowisata ini adalah hotel termegah yang ada di Indonesia paling Timur ini. Lihat aja kegagahan dan keindahannya di foto karya PT Waskita ini.
Namun foto ini adalah foto yang diambil sesudah selesai dibangun pada tahun 1991. Foto tersebut tinggalah kenangan.
Pada saat aku berkesempatan ke Biak dan mendengar adanya hotel Marau ini, sudah berbeda keadaannya. Foto dibawah ini adalah Hotel Marau pada tanggal 19 November 2009.
Kelihatan gak bedanya? Ha...? Emang masih perlu ditanya? Memang kelihatan jauh sekali kan. Konon investasi yang telah dikeluarkan saat pembangunannya pada tahun 1991 telah menghabiskan biaya Rp 1,7 trilyun. Kalau dikonversi dengan nilai uang sekarang berapa ya? Lebih dari Rp 6 trilyun tuh.
Bayangkan investasi yang sebesar itu kemudian menjadi tinggal puing yang tersisa. Sebagai pendatang yang melihat sekejap dan mencoba mencari tahu dengan segala keterbatasan sumber informan jadi penasaran. Apa ya yang sebenarnya terjadi atas semua ini? Kuingin mencari tahu lebih jauh, seperti halnya mencari jawaban atas pertanyaanku di awal tulisan ini.
Jun 21, 2009
Perpisahan deh...
Ada perjumpaan tentunya ada perpisahan. Maka tibalah saatnya kami berdelapan harus berpisah setelah hampir sebulan jalan bareng. Sore itu, 19 Juni 2009, di sebuah taman di tepi pantai Waikiki kami makan bareng, ber-barbeque and salad ria. Agak canggung rasanya kami saling bercerita menyadari bahwa pertemuan ini adalah bagian untuk mengakhiri perjalanan yang mengasikkan ini. Tapi hidup memang harus kembali ke dunia nyata.
Perpisahan yang sebenarnya terjadi pada 20 Juni 2009. Kami bertujuh, selain Ruby, berkemas dan berangkat meninggalkan hotel menuju Bandara Honolulu. Untungnya kami bertujuh masih bisa berbarengan sampai di Jepang. Jadi masih ada kesempatan untuk berbagi cerita di perjalanan. Ruby harus stay satu malam lagi karena dia menggunakan penerbangan yang esok harinya. Antara sedih dan senang tentunya. Sedih karena tidak bisa berbarengan dengan ketujuh teman seperjalanannya selama ini. Tapi senang sekali karena masih ada waktu satu hari untuk memuaskan diri berbelanja. Yes.. belanja adalah hal yang paling menyenangkan baginya. Okay Ruby, selamat berbelanja dan kami jalan dulu.
Jun 17, 2009
Selamat jalan Texas
16 Juni 2009 pagi kami kembali harus mengungsi. Kali ini kami akan pergi bukan saja ke kota lain melainkan meninggalkan dataran benua Amerika menuju kepulauan kecil di tengah lautan Pasifik. Tepatnya kami ke negara bagian Hawai'i.
Menggunakan pesawat Continental Airline kami berdelapan ditambah dua pendamping kami terbang meninggalkan bandara Houston-Bush International Airport pada pukul 11.25 waktu setempat. Diperkirakan pada pukul 14.45 waktu Hawai'i kami akan mendarat di Bandara Honolulu. Selamat jalan Texas. You have what you proud to "Everything in Texas is big" and it make you always say "Don't mess with Texan"
Jun 14, 2009
Space Center, Houston Texas
Ternyata kegiatan yang rencananya cuma dua jam malah baru berakhir pukul 18.00. Jadi kami habiskan waktu 3 jam lebih di Space Center ini. Yang lama adalah kunjungan ke sarana pengendali dan latihan para astronotnya. Hebat ya NASA ini. Kantor bisa jadi tempat wisata. Memang dasar Amrik ini apa aja bisa jadi tempat hiburan dan liburan.
Liat tukiknya Texas
Siang ini rencana kami akan pindah ke kota lain masih di negara bagian Texas juga. Tapi pagi sebelum berangkat kami menyempatkan berkunjung kembali ke Padre Island di bagian ujung dimana ada pusat konservasi penyu. Kami akan melihat pelepasan tukik ke alam. Sudah sering sih aku melihat kegiatan ini, bahkan punya beberapa program yang sama. Salah satunya coba deh browse di youtube.com dan cari "song for tukik". Tapi gak ada salahnya melihat di Texas ini, untuk cari perbandingan bagaimana mereka mengelolanya.
Pukul 5.30 pagi kami sudah meluncur dari hotel. Marty baik banget, dia udah menyiapkan kopi dan donat untuk pengganjal perut di pagi hari. Susan mengajak suami dan anaknya. Mereka rupanya belum pernah juga melihat kegiatan pelepasan tukik ini. Satu jam perjalanan dari hotel tibalah kami di Taman Nasional Padre Island. Tepatnya di Malaquite Pavillion, dimana pusat konservasi penyu ini dipusatkan.
Pukul 5.30 pagi kami sudah meluncur dari hotel. Marty baik banget, dia udah menyiapkan kopi dan donat untuk pengganjal perut di pagi hari. Susan mengajak suami dan anaknya. Mereka rupanya belum pernah juga melihat kegiatan pelepasan tukik ini. Satu jam perjalanan dari hotel tibalah kami di Taman Nasional Padre Island. Tepatnya di Malaquite Pavillion, dimana pusat konservasi penyu ini dipusatkan.
Jun 12, 2009
Inisiatif masyarakat Corpus Christi
Pagi sampai sore ini judul di atas menjadi tema perjalanan kami. Pukul 8 kami meluncur ke kantor Pelabuhan Corpus Christi. Bukan untuk urusan pelayaran, tapi host kami pinjam aula pertemuan di kantor ini untuk memaparkan pengalamannya dalam mengelola satu organisasi non profit. Ada dua organisasi, yang pertama organisasi kecil namanya Corpus Bend sedang yang kedua organisasi besar Gulf of Mexico Foundation. Kedua organisasi ini adalah organisasi non profit, jadi kami dapat cerita dan diskusi mengenai peran, aksi dan bagaimana organisasi tersebut mengelola dan memastikan keberlangsungan programnya. Gulf of Mexico Foundation merupakan kelanjutan dari program EPA yang diinstitusikan menjadi satu Yayasan yang bertugas untuk menjembatani kerja antar lembaga dari negara2 bagian di USA dan MEXICO. Lembaga ini mencoba mengatasi kesenjangan komunikasi yang terjadi karena adanya birokrasi antar institusi. Lobby lembaga ini di Washington sangat kuat sehingga ratusan ribu dollar dikelola setiap tahunnya untuk melakukan pertemuan rutin dari lembaga2 di US dan Mexico serta memberikan grant untuk kegitan di lapangan terutama terkait restorasi kerusakan lingkungan.
Jun 11, 2009
Hari kedua di Corpus Christi, Texas
Pagi ini acara kami dimulai pukul 08.00. Kumpul di lobby hotel Omni Bayfront Hotel, Susan dan Marty sudah siap menjemput kami. Acara pertama kami akan menjadi observer pada acara Workshop "Texas Seagrass Conservation Program" di gedung Pengelola Pelabuhan Corpus Christi. Acara ini diselenggarakan oleh Texas Parks and Wildlife, Coastal Bend Foundation and Port of Corpus Christi. Hampir 100 perserta mengikut wshop ini.
Setelah itu kami makan siang di Alladin. Restoran orang Siria. Alasan memilihnya adalah hanya dia yang menyediakan masakah halal.
Sorenya setelah makan siang kami mengunjungi Harte Research Institute, Texas A&M University-Corpus Christi. Insitut ini baru mendapat bantuan pembangunan gedung riset dari seorang warga Texas yang ingin turut mengembangkan penelitian. Hebat aja, satu orang mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membangun gedung riset. Mmmm...
Setelah itu kami makan siang di Alladin. Restoran orang Siria. Alasan memilihnya adalah hanya dia yang menyediakan masakah halal.
Sorenya setelah makan siang kami mengunjungi Harte Research Institute, Texas A&M University-Corpus Christi. Insitut ini baru mendapat bantuan pembangunan gedung riset dari seorang warga Texas yang ingin turut mengembangkan penelitian. Hebat aja, satu orang mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membangun gedung riset. Mmmm...
Jun 10, 2009
Negara bagian Texas
Ini adalah negara bagian ketiga yang kami kunjungi. Negara bagian Texas. Beberapa hari belakangan nonton Weather News Channel ditayangkan bahwa negara bagian ini akan berada di suhu kisaran 90 derajat Fahrenheit. Lebih panas dari negara bagian Florida dimana kami menghabiskan waktu hampir seminggu terakhir. Tentunya tidak terlalu berbeda dari suhu biasanya di Wakatobi yang mencapai 35-36 derajat Celcius.
Ketika berangkat dari Bandara Florida, terbayang sudah panasnya Texas ini. Saat mendarat di Bandara Dallas, panas itu sudah mulai terasa menyengat. Apalagi ketika kami harus buru-buru keluar pesawat karena harus mengejar pesawat American Eagle yang akan menerbangkan kami dari bandara Dallas ke bandara Corpus Christi. Namun bandara International Dallas sangatlah nyaman dan bersih. Kami juga tidak perlu berlari jauh dari Gate B18, tempat dimana kami keluar, menuju Gate C32 dimana pesawat berikutnya menunggu.
Beda waktu antara Florida dengan Texas adalah satu jam lebih lambat. Jadi saya harus mengundurkan satu jam arloji Suunto yang saya pakai.
Pesawat American Eagle yang kami gunakan ternyata adalah jenis ATR. Pesawat tipe ini juga yang biasa saya pakai kalau harus terbang dari Ujung Pandang menuju Bau-Bau. Pesawat baling2 ganda ini berangkat dari Dallas pukul dan tiba di Corpus Christi 1jam 35 menit.
Bandara Corpus Christi sangat terang benderang kalau tidak bisa dikatakan panas, saat itu sekitar puku 16.30 an. Di bandara itu kami disambut dengan paparan foto2 hasil lomba foto pemotretan burung. Sangat indah foto-foto yang dipajang. Marty Johnson dari World Affairs Council of South Texas, menjemput kami dengan mobil pickup double cabin Honda dan satu mobil van sewaan dari AVIS. Ia tempatkan barang-barang kami di mobil pick up dan kemudian kami menggunakan van menuju Hotel Omni Bayfront di 900 North Shoreline Boulevard.
Setelah check in dan meletakkan barang-barang di kamar, saya, Ficar, Sade, Nais dan Ruby, sepakat keluar untuk mencari restoran. Sepanjang jalan sore itu hanya kami yang berjalan kaki, jalanan lengang oleh pejalan kaki. Beberapa mobil berseliweran dan komentar kami sama, semua yang di Amerika ini besar2, mobil yang lalu lalang selalu berukuran besar jenis mini truk atau setidaknya sedan dengan cc di atas 2000 cc. Mengikuti petunjuk Marty saat kami dijemput tadi kami memilih satu restoran seafood di dekat hotel. Seafood restoran ini sangat nyaman dan menyenangkan suasananya. Kami mencoba masakan Snapper, Shrimp dan fish. Ternyata porsinya tidak cukup untuk kami berlima. Kami memesan lagi udang dan tambahan kentang dan calamari. Nyam, dengan lahap kami santap semuanya dan pulang dengan perut kenyang.
Perjalanan kami balik ke hotel memilih jalur jalan di pantai Teluk Corpus Christi. Yang menarik di pantai bertembok tinggi 4o cm ini terpasang beberapa bangku putih di sepanjang pantai ini. Pada bangku-bangku tersebut tertuliskan nama yang digrafir pada logam tembaga dan dipasangkan pada bangku berwarna putih itu.

Ketika berangkat dari Bandara Florida, terbayang sudah panasnya Texas ini. Saat mendarat di Bandara Dallas, panas itu sudah mulai terasa menyengat. Apalagi ketika kami harus buru-buru keluar pesawat karena harus mengejar pesawat American Eagle yang akan menerbangkan kami dari bandara Dallas ke bandara Corpus Christi. Namun bandara International Dallas sangatlah nyaman dan bersih. Kami juga tidak perlu berlari jauh dari Gate B18, tempat dimana kami keluar, menuju Gate C32 dimana pesawat berikutnya menunggu.
Beda waktu antara Florida dengan Texas adalah satu jam lebih lambat. Jadi saya harus mengundurkan satu jam arloji Suunto yang saya pakai.
Pesawat American Eagle yang kami gunakan ternyata adalah jenis ATR. Pesawat tipe ini juga yang biasa saya pakai kalau harus terbang dari Ujung Pandang menuju Bau-Bau. Pesawat baling2 ganda ini berangkat dari Dallas pukul dan tiba di Corpus Christi 1jam 35 menit.
Setelah check in dan meletakkan barang-barang di kamar, saya, Ficar, Sade, Nais dan Ruby, sepakat keluar untuk mencari restoran. Sepanjang jalan sore itu hanya kami yang berjalan kaki, jalanan lengang oleh pejalan kaki. Beberapa mobil berseliweran dan komentar kami sama, semua yang di Amerika ini besar2, mobil yang lalu lalang selalu berukuran besar jenis mini truk atau setidaknya sedan dengan cc di atas 2000 cc. Mengikuti petunjuk Marty saat kami dijemput tadi kami memilih satu restoran seafood di dekat hotel. Seafood restoran ini sangat nyaman dan menyenangkan suasananya. Kami mencoba masakan Snapper, Shrimp dan fish. Ternyata porsinya tidak cukup untuk kami berlima. Kami memesan lagi udang dan tambahan kentang dan calamari. Nyam, dengan lahap kami santap semuanya dan pulang dengan perut kenyang.
Perjalanan kami balik ke hotel memilih jalur jalan di pantai Teluk Corpus Christi. Yang menarik di pantai bertembok tinggi 4o cm ini terpasang beberapa bangku putih di sepanjang pantai ini. Pada bangku-bangku tersebut tertuliskan nama yang digrafir pada logam tembaga dan dipasangkan pada bangku berwarna putih itu.
Rupanya bangku-bangku ini merupakan sumbangan dari warga di Corpus Christi untuk melengkapi pantai yang sudah indah ini semakin lengkap dengan tersedianya bangku-bangku putih nan indah. Rupanya dukungan masyarakat terhadap pantai in cukup tinggi. Terbukti banyaknya bangku-bangku putih dari papan ini yang terpasang sepanjang pantai ini. Satu pelajaran lagi kami dapat.
Jun 9, 2009
Everglades National Park
Jun 8, 2009
Menjadi volunteer di Florida Keys Clean Up Programme

Setelah berlibur dua hari maka pada hari Senin, 8 Juni 2009, kami menjadi volunteer dalam program Reef Clean Up yang diadakan di Florida Key Reef. Lokasinya cukup jauh dari hotel kami menginap. Oleh karenanya pukul 07.30 kami harus sudah meluncur dengan van charteran kami untuk menuju lokasi.
Selesai bervolunteer-ria di Florida Keys, dalam perjalanan kembali ke Miami kami mampir di John D Pennekamp State Park of Florida. Kawasan konservasi ini dibawah pengelolaan negara bagian Florida. Berbeda dengan Taman Nasional (National Park) yang dibawah pengelolaan negara. Nama John D. Pennekamp merupakan penganugerahan kepada nama seorang wartawan yang merintis pendirian State Park ini. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai kawasan ini silakan buka website mereka di : http://www.floridastateparks.org/pennekamp/
Jun 4, 2009
Bergeser ke Negara Bagian Florida
Dari bandara Reagan, Washington kami akan menggunakan American Airline menuju bandara Miami International, Florida. Perjalanan udara ini ditempuh kira-kira sekitar 3 jam yaitu dari pukul 15.00 dan tiba 18.00 waktu setempat.
Foto di atas adalah saat melakukan check-in di Bandara Reagan, Washington dan foto di bawah adalah koridor dari ruang kedatangan menuju ruang pengambilan bagasi di bandara Miami International, Florida
Subscribe to:
Posts (Atom)








