Mar 2, 2009

Pembantaian Bedawang Nala

Penyu hijau dikeramatkan oleh masyarakat Bali, tapi sekaligus diburu. Ini akibat dari adat yang salah kaprah. Perdagangan penyu lalu diperketat, tapi penegakan hukumnya diabaikan.

NASIB dua saudara ini berbeda, bagaikan langit dan bumi. Kura-kura Ninja adalah tokoh kartun kondang di layar kaca yang jadi pahlawan si Upik. Adapun di pantai Bali, riwayat penyu hijau (Chelonia mydas) harus berakhir di tusuk sate. Hewan amfibi ini merupakan komoditi yang laris diperdagangkan di Pulau Dewata, sejak dua dasawarsa lalu, meski selama itu pula para pemerhati lingkungan dengan lantang mengingatkan masyarakat tentang populasi penyu yang kian lama kian anjlok.

 Tempo, 16 Maret 1999

Kekhawatiran mereka mudah dipahami karena dari enam jenis penyu yang ada di Nusantara, hanya penyu hijau yang belum dilindungi. Untunglah, setelah dinanti sekian lama, akhir Januari lalu keluar Peraturan Pemerintah No. 7 dan 8 Tahun 1999, yang menegaskan bahwa penyu yang boleh diperdagangkan adalah penyu hasil penangkaran. Itu pun sebatas kategori F2 (keturunan setingkat cucu). Di luar itu, diharamkan.

 

Namun peraturan baru itu belum efektif menahan laju kematian penyu hijau di Bali. Penegakan hukum di Indonesia, terutama untuk pelestarian lingkungan, jarang dilakukan sebagaimana mestinya. Pihak penegak hukum tidak bekerja serius dan dana pun tidak tersedia?itulah dua dari beberapa faktor penyebab.

 

Di sisi lain, perburuan penyu hijau memang gila-gilaan. Tengok saja laporan World Wide Fund for Nature (WWF). Pada suatu hari bulan November tahun lalu, tim pemantauWWF memergoki tiga kapal pemburu penyu di sepanjang perairan Dobo, Maluku. Target tangkapan tiap kapal sampai 300 ekor per hari. Hewan-hewan ini kemudian dilempar ke Tanjungbenua, Bali, yang telah lama merupakan pintu masuk perdagangan penyu dari perairan Maluku, Flores, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

 

Rupanya, peminat penyu di Bali cukup banyak. Sebab, menurut penggemarnya, daging penyu jauh lebih manis dan empuk daripada daging sapi. Tak aneh bila harga seekor penyu paling rendah Rp 500 ribu.

 

Pembantaian penyu yang tak terkendali membuat WWF dan Green Peace bereaksi keras. Pada 1990, ada ancaman boikot dari para wisatawan asing. Ancaman ini tak ubahnya pukulan untuk Bali, yang perekonomiannya banyak mengandalkan pariwisata. Gubernur Bali waktu itu, Ida Bagus Oka, tak bisa lain kecuali menandatangani keputusan untuk membatasi perdagangan penyu hingga 5.000 ekor per tahun. Tapi, karena penegakan hukum lemah, pembantaian jalan terus. Dari pemantauan WWF diketahui bahwa jumlah penyu yang dijual tetap melampaui kuota (lihat infografik).

 

Memang benar, jumlah penyu yang diperdagangkan merosot terus dari tahun ke tahun. Namun hal itu bukan pertanda bahwa kesadaran untuk tak lagi menyembelih hewan bermata bening itu telah meningkat. Faktor utamanya, menurut "ahli penyu" di WWF Bali, Veda Santiaji, adalah karena habitatnya makin tergerus. Rupanya, sejak tahun 1980-an, jumlah hewan bercangkang ini makin susut karena pantai pendaratannya?di Sanur, Kuta, dan Nusa Dua?telah bersalin rupa menjadi hotel dan restoran. Hal ini cukup "menakutkan" bagi penyu, yang amat pemalu dan hanya mau bertelur di pantai yang sunyi.

 

Selain habitatnya dirusak, penggusuran penyu juga terjadi di Pulau Serangan, sebuah kawasan di selatan Denpasar yang pernah kondang sebagai "pulau penyu". Lokasi ini kemudian dicaplok oleh pengembang pariwisata, Bali Turtle Island Development Project, yang 11 persen sahamnya dikuasai Tommy dan Sigit Soeharto. Tanpa pikir panjang, surga tempat penyu hijau beranak- pinak ini digasak. Pantainya direklamasi hingga tiga kali luas pulau aslinya. Melihat ini, keluarga penyu pun merasa terancam dan tidak kerasan.

 

Kegemaran masyarakat Bali akan daging penyu merupakan faktor lainnya yang mengancam kelestarian hewan tersebut. Dalam pandangan rakyat Bali, penyu adalah binatang yang diagungkan, diberi gelar Bedawang Nala, dan diyakini sebagai penjaga keseimbangan jagat. Setiap Padmasana, bangunan suci Hindu, selalu disangga dengan relik Bedawang Nala.

 

Namun kebiasaan memakan daging penyu ini ditentang oleh seorang pendeta Hindu terkemuka, Ida Pedanda Gde Ngurah Kaleran. Menurut pendapatnya, adalah salah kalau orang berpikir bahwa bila memakan daging binatang suci, otomatis sang penyantap terbebas dari dosa. Justru karena kesuciannya itulah, menurut Kaleran, penyu hijau harus dilindungi dan tak boleh dibunuh, kecuali untuk keperluan ritual. Dia memperhitungkan, tak diperlukan banyak penyu untuk acara-acara ritual itu. Untuk seluruh upacara di Bali selama setahun, 300 ekor penyu sudah lebih dari cukup. Dan jika keadaan tidak memungkinkan, seperti yang banyak terjadi belakangan ini, penyu bisa diganti dengan jaja cacalan (penganan ketan berupa replika penyu).

 

Apa oleh buat, salah kaprah itu telanjur meluas. Banyak penduduk desa menyembelih penyu hijau untuk pesta adat. Salah kaprah ini perlu diluruskan agar aturan baru tentang perdagangan penyu hijau bisa efektif dalam upaya melindungi hewan langka itu. >Karaniya Dharmasaputra, Agus S. Riyanto (Jakarta), I Nyoman Sugiharta (Bali)

Mar 1, 2009

Strategi Inovasi Biaya Industrialis China

Oleh Bob Widyahartono *)

Jakarta (ANTARA News) - Mulai Mei 2009 selama tiga bulanan akan diselenggarakan China Expo di Shanghai. Expo tersebut tentunya menarik perhatian para pembuat kebijakan, eksekutif bisnis dan perbankan, serta pengamat Indonesia untuk membentuk kerjasama tim (team work) merencanakan secara matang berpartisipasi sesuai kapasitas masing masing.

China Expo tentunya sudah disiapkan jauh-jauh hari, namun para pembuat kebijakan ekonomi China jelas tidak mau tinggal diam atau pasrah dalam menerima dampak krisis ekonomi global.

Fokus mengatasi dampak yang menurunkan ekspor mereka itu adalah pada sektor riil, industri dan perdagangan dalam negeri maupun internasional. Jika dicermati, China menyiapkan serangkaian langah realisasi kebijakan perekonomiannya sejak 1978. Bahkan, pada 1992 dengan perjalanan spektakuler ke selatan (southern tour), Deng Xiaoping negarawan yang meniupkan gaige kaifang alias keterbukaan dan reformasi ekonomi.
Hal itu pada giliranya menggairahkan jiwa kewirausahaan (entreprneurship) masyarakatnya, terutama di kawasan pantai. Selain itu, kebijakannya meningkatkan investasi dalam industri berbentuk usaha patungan dengan China (joint venture) dari negara tetangga, antara lain Jepang, Korea Selatan, Asia Tenggara, Amerika dan Eropa.

Hal menggairahkan bagi bangsa China adalah kesadaran Zhi Fushi Guangrong alias "menjadi kaya itu mulia" dengan memupuk jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) tersebut dalam kemampuan berbisnis secara profesional dan kredibel. Mayoritas industri sebagai eksportir China itu skalanya menengah dan dengan jaringan kerja (networking) ke skala rumah tangga domestik.

Para importir menangkap kegesitan pemilik dan karyawan dalam upaya berprestasi menjadi acuan yang mengagumkan dunia luar. Hal itu yang dikenal sebagai budaya produktivitas yang tinggi, walaupun ada keseratan ekonomi dewasa ini.

Donald N. Sull & Yong Wan mengulas dalam Made in China, what western managers can learn from Trailblazing Chinese Entreprenuer (2004) mengamati kegesitan sehari-hari para pimpinan dan manajemen China, yang membekali diri dengan pengetahuan dan yang harus berani menggugat diri dalam kemandekan operasi bisnis.

Salah satu konsepnya adalah proses menerapkan inovasi biaya (cost innovation) membuat berbagai perusahaan di luar China grogi. Mengapa demikian? Dengan inovasi itu manajemen China memakai strategi menerapkan teknologi tinggi ke dalam industrinya yang memproduksi secara massal (high technology to price competitive mass markets) sambil menawarkan makin banyak variasi produk dengan tetap mempertahankan biaya rendah.

Tahun 1970an pun industrialis Jepang melakukan proses yang serupa hingga merajai pasaran elektornika dan otomotif dunia, meskipun tidak mereka sebut "inovasi biaya" sampai belakangan ini.

Bayangkan saja, sejak beberapa tahun pasar di Indonesia pun dibanjiri aneka produk buatan China (made in China), mulai dari makanan jadi, mainan, buah buahan, obat obatan, alat rumah tangga sampai elektronika, kendaraan bermotor dan suku cadang produk produk yang diperlukan konsumen. Kenyataan ini sesungguhnya tidak hanya di Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia, bahkan Amerika dan Eropa juga dilimpahi produk produk China.

Pada gilirannya kemudian, China juga melakukan ekspansi dagangnya melalui Internet di http://www.madeinchina.com sehingga transaksi pun dapat berlangsung secara online.

Banyak peneliti dan pengamat luar China kagum bahwa China memproduksi lebih dari 75 persen mainan anak yang tersebar luas di dunia, 60 persen pakaian jadi (garment) dan 35 persen produk telepon seluler (ponsel) yang sudah mendunia.

Jangan terkejut pula kalau suatu saat dalam dua tiga tahun mendatang China akan berhasil membuat pesawat terbang komersil untuk masyarakat dunia. Berbagai produk konsumen China umumnya mulai dari shampo, jepit rambut, kemeja, sepatu, alat listrik dan elektronik sampai kendaraaan bermotor kini cenderung sudah berada di depan pintu konsumen.

Merek bisa saja tidak "ngetren", tapi produk China yang "keren" sudah merambah ke mana-mana. Produsen barang konsumsi umumnya skala kecil dan menengah, kecuali elektronik dan kendaraan bermotor yang skalanya menengah dan besar, karena secara tidak langsung mencontoh pengalaman yang dilalui salah satu perusahaan mereka, yakni Legend atau Haier.

Hal lainnya yang menarik adalah bahwa para industriawan dan manajemen menengah China tidak senantiasa bersedia hanya menjadi rekan pendiam (silent partner) terhadap penanaman modal asing (PMA) dari Jepang, Eropa maupun Amerika.

Para eksekutif bisnis China terus menggali pengetahuan dan kalaupun ada kader partai yang tertarik untuk berpengetahuan bisnis sampai tingat internasionalisasi. Para kader itu digiring oleh pemerintah pusat maupun propinsi untuk mulai belajar dari awal dalam bentuk kursus singkat (short courses) yang berulang-ulang, dan bukan berpolitik melulu.

Selain inovasi biaya, China mengenalkan pula konsep siklus SAPE = Sense, Anticipate, Prioritize, Execute yang merupakan alternatif proses perencanaan dalam strategi yang lain dari yang lazimnya dipraktekkan perusahaan lain. Merek produk PC (Personal Computer)-nya merek Legend dalam keberhasilan proses produksi dengan SAPE cycle dalam proses kewirausahaan dan menanamkan jiwa pada karyawan untuk menghayatinya.

Suatu model mental, agar berani mengantisipasi peluang dan ancaman kemunduran dan kegagalan dengan memilih pada satu arah untuk mampu bersaing, menetapkan prioritas bergerak strategis, dan melaksanakan menjadikan sasaran berwujud (tanglible objectives).

Jadi, di China kreativitas masing-masing industri dalam operasi produksi dan bisnis menarik. Produsen China terkenal dengan inovasi biaya hingga menjadikan hasil produknya terjangkau oleh kelas menengah ke bawah.

Dalam perjalanan waktu, mereka tidak terus menghasilkan produk kelas bawah low-end products dengan strategi harga murah. Sebagai salah satu sarana inovasi biaya, China menerapkan teknologi yang lebih maju (more advanced technology) untuk diferensiasi produk dalam proses produksi masal dengan tetap mempertahankan harga dengan marjin yang biasanya hanya sekitar 15 hingga 20 persen dengan kalkulasi harga yang efisien, sedangkan umumnya produsen Jepang marjinnya sekitar 30 persen, dan Amerika 35 hingga 45 persen.

Berbagai hal itulah yang menjadi tantangan yang menarik bagi usahawan/industriawan Indonesia untuk mempelajari secara seksama bagaimana implementasi inovasi biaya dalam sektor masing-masing dengan budaya produktivitas atas dasar kerja keras dan cerdas, serta terus menggali informasi pengetahuan berbasis teknologi dan ketrampilan dari luar China.

(*) *) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat ekonomi/bisnis Asia Timur, dan Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta. (*)

ANTARA 02/03/09 03:17