Jul 12, 2006

Kliping Suara Pembaruan 30 Juni 2006

Idealisme Seorang Pencinta Lingkungan
Veda Santiadji [Pembaruan/Unggul Wirawan]

Sebagai seorang aktivis lingkungan, Veda Santiadji tak mengusung idealisme dengan harga mati. Selain kompromi, ada strategi. Jangan heran, berburu penyu pernah dilako- ninya. Bahkan Veda pun sempat hengkang dari World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia.
Meskipun dianggap "buangan", dia tetap memilih jurusan kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah lulus, dia memang tak ingin bekerja kantoran. Tak sekalipun terbayang bekerja di Jakarta. Maka ketika datang tawaran dari WWF Indonesia, Veda tak menyia-nyiakannya.
"Tahun 1994, saya melakukan ekspedisi di Wakatobi dan mendapat dukungan WWF. Dari sana, saya kenal tapi tidak terbayang kerja di WWF. Setelah lulus, saya kerja volunteer di Bali selama tiga bulan. Saat uang sudah habis, saya pamit pulang. Tapi oleh pemimpin proyek, Pak Ketut, saya malah ditawari kerja," kenang pria kelahiran Surabaya, 24 Agustus 1971 itu.
Kini Veda menjabat posisi Outreach & Community Development Coordinator WWF Indonesia. Dia sudah malang melintang di berbagai kawasan Indonesia. Selain terumbu karang, Veda cukup berpengalaman soal konservasi penyu. Pada suatu ketika, bahkan dia ikut membaur bersama para pemburu penyu.
"Dulu di Desa Pranca, Kabupaten Jembrana, ada satu desa pemburu penyu. Responsnya tidak terbuka, tapi akhirnya saya bisa masuk. Saya ikut berburu bersama mereka. Kami bahkan masuk Taman Nasional Meru Betiri. Setelah seharian penuh, kami hanya dapat satu penyu," kata suami Parama Dewi yang juga aktivis lingkungan itu.

Tidak Ekonomis
Berdasarkan pengalaman itulah, Veda mulai melancarkan misinya. Pelan-pelan, dia membuka kesadaran bahwa populasi penyu sudah jauh berkurang. Berburu penyu tidak lagi memiliki nilai ekonomis. Selain tidak sebanding antara hasil tangkapan dan ongkos melaut, pemburu penyu berisiko tertangkap petugas jagawana.
"Mereka baru mau terbuka, kalau kita pasang kuping daripada kita ngomong. Ketika masuk komunitas dalam program konservasi, yang paling dulu dipasang adalah telinga. Kita harus tahan enam bulan hingga satu tahun hanya untuk sekadar mendengarkan alasan mengapa mereka melakukannya," ujarnya.
Alasan mereka berburu penyu ternyata karena tidak mengenal pekerjaan lain. Dahulu mereka masih mampu menangkap enam-tujuh ekor penyu dalam sehari. Tanpa sadar, mereka pun mengeluhkan kondisi tersebut. Jika tak ada lagi penyu yang dapat ditangkap, mereka akan kehilangan mata pencarian.
"Jadi tanpa kita kasih pelajaran atau nasihat, sebenarnya mereka sudah resah. Kita harus bisa mencari momen, di mana kesadaran itu muncul. Bahkan seorang koordinator pemburu penyu akhirnya bisa saya suruh bercerita kepada masyarakat tentang bagaimana susahnya menemukan penyu," paparnya.
Menurut Veda, persoalan kelembagaan antara WWF dengan masyarakat bisa direduksi jika orang yang masuk benar-benar mau menggunakan bahasa setempat. Strategi terpenting adalah berkomunikasi dan berinteraksi. Sebagai petugas konservasi, tidak selalu harus antieksploitasi. Sikap yang terlalu kaku justru sering tidak efektif dan memicu konflik.
"Coba terus sampai ada titik momentum, jadi tidak harus ada pertentangan. Jika malah dipaksakan, malah timbul konflik berkepanjangan. Pada akhirnya, investasi waktu yang dibutuhkan sama saja," ia menambahkan.
Lebih jauh mengenai idealisme dan prinsip, Veda mengaku pernah mengalami perbenturan. Pada 1998, dia mendampingi se- orang profesor Yunani dan sejumlah aktivis dari Jerman ke Kalimantan Timur dalam rangka konservasi penyu. Mereka merasa kecewa dan marah karena sikap Veda justru permisif terhadap pemburu penyu. Mereka bahkan menyebut WWF tidak pantas punya staf seperti dia.
"Saya juga sudah kesal. Lalu saya katakan, mungkin saya tidak terlihat konservatif, tapi paling tidak saya punya keyakinan dan cara. Persoalan saya layak atau tidak, biar WWF yang tentukan. Sebagai pribadi saya tersinggung. Kalau hanya karena bawa uang, kenapa tidak Anda amankan saja penyu-penyu di Jerman," balas Veda.
Kejadian itu berbuntut panjang. Program konservasi penyu lalu dibatalkan. WWF beralasan dana tidak mencukupi. Tetapi Veda bersikeras untuk tetap menjalankan program dengan atau tanpa WWF. Bahkan selanjutnya, Veda menyatakan keluar dari lembaga itu pada 2000.

Edukasi
Keluar dari WWF, Veda lalu mendirikan Yayasan Bahtera Nusantara di Denpasar. Mereka menyosialisasikan penangkapan ikan hias dengan peralatan yang tidak merusak lingkungan. Tetapi pada 2003, Veda dipanggil kembali masuk WWF. Sejak masuk sampai sekarang, dia mulai menangani kawasan Wakatobi.
"Wakatobi mestinya tidak sebagai konservasi an sich, melainkan sebagai perikanan yang berkelanjutan. Konsepnya berbeda dengan konservasi yang berbasis spesies seperti komodo, badak, penyu, atau jalak bali. Sayangnya, konservasi itu masih dilihat sebagai larangan," ia menjelaskan.
Veda berpendapat eksploitasi sumber daya laut terjadi karena manusia tidak lagi membedakan antara kebutuhan hidup dan keserakahan. Manusia menguras kekayaan laut dengan segala cara. Karena itu, program konservasi harus menekankan edukasi sumber daya alam untuk keberlangsungan masa depan. [Pembaruan/Unggul Wirawan]

Last modified: 29/6/06

No comments: