Feb 10, 2009

Mencermati Tiga Etape Perjalanan Panjang China

08/02/09 09:39

Oleh Bob Widyahartono MA *)
Jakarta (ANTARA News) - Tahun 2009 dalam horoskop China disebut sebagai "tahun Kerbau" berelemen tanah (Earth Ox Year). Sejak melajunya era Deng Xiaoping (1978), masyarakat Indonesia, terutama para elite birokrasi pemerintahan, eksponen bisnis termasuk manajemen menengahnya, mencermati, perkembangan politik, ekonomi dan budaya China, sekalipun banyak yang meragukan makna menimba belajar dari China.

Tanpa menganggap enteng, kini sejak tahun lalu, dunia mengalami krisis ekonomi global yang diakibatkan dan gulirkan ke bagian besar dunia oleh sistem perekonomian kapitalisme berjiwa dan berwujud neo-liberalisme Amerika Serikat (AS), antara lain rontoknya pasar modal Wall Street, dan berbagai kegagalan antara lain sub-prime mortgage AS.
Berbagai kalangan di Indonesia, termasuk penulis, mencemaskan obatnya krisis masih satu dua tahunan. Karena itu, elite birokrasi, bisnis dan kalangan kelas menengah kita perlu belajar dan mencermati perjalanan panjang banga China yang penuh dinamika naik-turun, termasuk dalam berjaga-jaga menghadapi dampak krisis itu memasuki tahun tahun yang akan datang.

Evelyn Lip (PhD Arch) dalam "Out of China",(Addision Wesley Publishing Company 1993) yang dikenal luas sebagai pakar arsitektur internasional menyadari bahwa membutuhkan lebih dari satu masa hidup (life time) untuk menggapai pengetahuan dalam segala bentuk dan kebajikan fisafat China. Artinya, "tiada akhirnya untuk terus belajar" (there is no end in learning = xue wu zhong zhi).

Perkembangan bangsa China sejak 1949, merupakan perjalanan panjang (long march) yang setiap etapenya 30 tahunan. Diawali dengan eranya Mao Zedong 1949-1976 dengan ketertutupan masyarakat dan ekonomi terencana yang ketat.

Kejadian kejadian di China jelas tidak dapat dipahami tanpa suatu rasa hormat pada fenomena Deng Xiaoping sebagai pemimpin pelopor etape keduanya. Impian awal tahun 1980an untuk suatu masa depan yang lebih cemerlang di China makin menampak dalam realita di bawah kepemimpinannya. Nah, marilah kita mengikuti perjalanan panjang sejarah China tiap etapenya

Long march pertama (1949-1978)

Ditinjau dari segi ekonomi sosial, China tadinya suatu masyarakat "non-materialistis" yang dilandasi ajaran Maoisme di bawah kepemimpinan Mao Zedong, China 1949-1976 yang segala kehidupan politik, ekonomi dan budaya diputuskan di Pusat Pemerintahan Beijing. Ketika zaman itu Eropa Timur sebelum era keterbukaan disebut "negara tirai besi" (the iron curtain).

China di bawah kepempimpian Mao Zedong (1949-1976) dijuluki sebagai ketertutupan oleh "tirai bambu" (the bamboo curtain).

Long march kedua (1978-2008)
Ekonomi-pasar sosialis yang digerakkan oleh nilai nilai kemakmuran individual sebagai reformasi yang dipelopori Deng Xiaoping sejak 1978 itu disebut sebut sebagai "gaige kaifang" (membuka diri dan reformasi tata kelola).
Figur Deng Xiaoping tidak hanya banyak dikagumi dalam negerinya tapi oleh dunia luar China. Sepatutnya disebut disini kekaguman oleh negarawan Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad, dalam "Globalization with common Development" (Oktober 2001) yang antara lain mengemukakan tidak perlu diragukan bahwa salah seorang agung (great men) abad 20 adalah Deng Xiaoping,

Bapak Empat Modernisasi China. Juga tidak usah diragukan bahwa dua dari petuah bijaksana (wise sayings) harus berada dalam benak pikiran kita ketika kita berbicara mengenai isu isu besar masa kini, bahkan setiap masa.

Kedua petuah tidak bisa diabaikan sebagai sarana untuk menganalisis dan sebagai pedoman bernilai dalam setiap tindakan kita. Deng berucap bahwa kita harus mencari kebenaran dari fakta. Artinya, kita jangan mendeduksi kebenaran hanya dari harapan harapan, sekalipun harapan harapan itu terhitung mulia.

Status historis dan signifikansi teori Deng Xiaoping yang dikenal sebagai "empat prinsip dasar" yang oleh Deng sendiri disebut sebagai langkah awal reformasi dan kebijakan membuka diri (gaige kaifang).

Prinsip dasar modernisasi , antara lain menumbuhkembangkan pemikiran dan mencari kebenaran dari fakta Pemahaman yang jelas tentang apa yang disebut รข��"sosialisme dan bagaimana membangunnya" disertai reformasi menyeluruh.

Digantinya prinsip pertentangan kelas dengan pembangunan ekonomi dan digantinya ekonomi terencana (planned economy) dengan ekonomi pasar sosialis. Penilaian yang cermat dan ilmiah atas perubahan perubahan dalam situasi global. Suatu sistem sosialisme dengan karakteristik China.

Makin jelas visi Deng Xiaoping "gaige kaifang" yang tidak terbatas pada ekonomi, tetapi sudah memasuki peta geopolitik sosial budaya Ungkapan pragmatisterkenal Deng antara lain tidak peduli apakah kucing itu hitam atau putih warnanya, tapi kucing itu harus menangkap tikus dan menjadi kaya itu mulia.

Teorinya tidak mutlak untuk negaranya, tapi menjadi panduan para penerus elite pemimpin bangsanya.

Penerus kepemimpinan China, duet Jiang Zemin/Zhu Rongji (1992-2003) dan Hu Jintao/Wen Jiabao (2003-2008) dan periode keduanya. Hu/Wen tetap memantapkan visi Deng Xiaoping dalam ber-internasionalisasi.

Yuan Ming, gurubesar hubungan internasional pada Universitas Beijing, sebagai pakar mengenai Amerika dalam wawancaranya dengan Thomas L. Friedman yang dituangkan dalam "Understanding Globalization: The Lexus and the Olive Tree" (2000) tidak sepenuhnya mendukung istilah globalisasi.

Yuan Ming mengungkapkan pola pikir kritis China terhadap arogansi global Amerika, dengan menyatakan bahwa pemimpin politik China dalam ungkapan ungkapan publik tidak memakai istilah globalisasi, tapi lebih suka memakai istilah modernisasi.

Globalisasi menunjukkan sesuatu yang tidak digemari oleh pikiran China karena didesakkan oleh Barat atau Amerika. Sebaliknya, modernisasi adalah sesuatu yang dapat dikendalikan (something we can control).

Ada suara menyegarkan dari pihak China dalam konperensi WTO, 10-14 September 2003 lalu di Cancun, Meksiko. Sebagai anggota baru, Cina menyatukan diri dengan negara negara dunia ketiga, bersama Brasil dan Indonesia, menjadi sponsor utama kelompok 21 yang menuntut penghapusan subsidi produk pertanian AS dan Uni Eropa.

Sikap China benar benar berpihak pada negara negara miskin. Kini memasuki putaran WTO Doha 2008 tentunya kelompok 21 tetap memiliki kebersamaan bahka sampai siding WTO tahun lalu.
Memasuki long march ketiga mulai 2008

Alih generasi pemimpin China ke generasi ke empat Hu Jintao/Wen Jiabao mencuatkan dominasi inti teknokrat dalam mengendalikan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dalam hubungan ini adalah pragmatisme dengan arus teknokrat "si hua" atau empat mengubah remaja, mengubah menjadi bersemangat kerja keras dan cerdas, mengubah menjadi profesional dan mengubah menjadi berpendidikan. Jadi kader kader Partai tidak boleh lagi hanya berbekal pengetahuan yang berasal dari buku indoktrinasi.

Setiap bangsa dapat bangkit dan mencapai tingkat kemakmuran oleh budaya produktivitas. Budaya ini juga diresapi oleh bangsa China. Budaya ini muncul akibat persaingan antar-bangsa yang mencuat setelah terjadinya gejala globalisme dan menjadi menarik karena terlibatnya peran negara dalam persaingan, dan elemen kultur tersebut.
Selain itu, rencana pembangunan infrastruktur fisik jalanan, kereta api dari Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat, pembangunan Chu Chiang river Delta dan industrial parks melengkapi kemajuan kawasan industri yang sudah ada di Kawasan Timur.

Yang mengusik kita adalah apakah memasuki eranya Hu Jintao ini sudah mulai tersusun Model modernisasi China? Bangsa China sendiri merasakan bahwa pejabat China bukan penghalang, bahkan malahan menjadi pendorong beroperasinya ekonomi pasar sosialis, yang tanggap dan tangguh merespons krisis ekonomi global yang digelindingkan As dengan kapitalisme yang berjiwa neo-liberalisme diawali dengan rontoknya Pasar Modal Wall Street tersebut di atas.
Inilah beberapa butir yang dapat kita pelajari sebagai bahan tanpa menjiplak mentah mentah proses dan apa yang berlaku bagi China.

*) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat studi pembangunan, terutama kawasan Asia Timur; dan Lektor Kepala Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar).

No comments: